147 Jurnal Sains Farmasi & Klinis p-ISSN: 2407-7062 | e-ISSN: 2442-5435 homepage: http://jsfk.ffarmasi.unand.ac.id DOI : 10.25077/jsfk.6.2.147-157.2019 Pendahuluan Kegawatdaruratan merupakan suatu keadaan kritis mendadak atau tidak terduga yang dapat mengancam jiwa sehingga menuntut tindakan segera untuk meminimalkan konsekuensi buruknya [1]. Setiap rumah sakit wajib memiliki Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang memiliki kemampuan melakukan pemeriksaan awal kasus gawat darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi (life saving) [2]. Centers for Disease Control and Prevention, (2014) menyatakan bahwa kasus infeksi yang sering terjadi di IGD Amerika Serikat Artcle history Received: 09 Nov 2018 Accepted: 07 Agust 2019 Published: 20 Agust 2019 Access this artcle ORIGINAL ARTICLE J Sains Farm Klin 6(2),147–157 (Agustus 2019) Analisis Perbandingan Antara Monoterapi dengan Dualterapi Antibiotik Extended Empiric pada Pasien Community-Acquired Pneumonia di RSUP Fatmawati Jakarta (Comparison analysis between extended empirical monotherapy with dual-therapy antibiotics on Community-Acquired Pneumonia at RSUP Fatmawati Jakarta) Nurraya Lukitasari * 1 , Maksum Radji 1 , Alfina Rianti 2 1 Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Kec. Beji, Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia 2 RSUP Fatmawat, Jl. TB Simatupang No.18, RT.4/RW.9, Jakarta Selatan, Indonesia ABSTRACT: Community-acquired pneumonia (CAP) is an acute infammaton of the pulmonary parenchyma caused by microorganisms and obtained from the community. This study aims to analyze the comparison of therapeutc outcomes, cost- efectveness and the best choice of antbiotc therapy also the relatonship between the accuracy and cost of monotherapy and dual-therapy extended empirical antbiotc in a prospectve cohort. Samples were 39 monotherapy and 28 dual-therapy. Therapeutc outcomes assessed afer the 5th day of extended empirical antbiotc use by measuring the fuctuatons in leukocyte, respiratory rate, and patent's temperature. This study uses statstcal analysis methods (Chi-square, simple linear regression and Spearman correlaton), cost-efectveness analysis and Gyssens method. Highest dual-therapy results for unconsciousness comorbid, P value=0,643 for therapeutc outcomes and ACER monotherapy was lower (Rp.256.896,36) than dual-therapy (Rp.609.505,56), the best antbiotcs are cefriaxone and ciprofoxacin-cefriaxone. There is a relatonship between the accuracy of use and cost of antbiotcs (r=0,282;P=0,005). It can be concluded that between the use of monotherapy and dual-therapy didn’t difer signifcantly in therapeutc outcomes, the cost-efectveness of monotherapy is beter than dual-therapy with the best choice of monotherapy is cefriaxone and consideraton ciprofoxacin-cefriaxone for unconsciousness comorbid, there is a moderate relatonship between the accuracy of use and extended empirical antbiotc's cost. Keywords: CAP; cost-efectveness; extended empiric antbiotc; Gyssens method; therapeutc outcome. ABSTRAK: Community-acquired pneumonia (CAP) adalah suatu peradangan akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme dan didapat dari masyarakat. Penelitan ini bertujuan menganalisis perbandingan luaran terapi, efektvitas biaya dan pilihan terapi antbiotk yang baik serta hubungan ketepatan penggunaan dengan biaya antbiotk extended empiric monoterapi dengan dualterapi. Desain penelitan ini adalah kohort prospektf. Jumlah sampel sebanyak 39 pasien dengan monoterapi dan 28 pasien dengan dualterapi. Luaran terapi dinilai setelah hari ke-5 penggunaan antbiotk extended empiric dengan mengukur fuktuasi nilai leukosit, laju napas dan suhu tubuh pasien. Penelitan ini menggunakan metode analisis statstk (Chi-square, regresi linier sederhana dan korelasi Spearman), analisis efektvitas biaya dan metode Gyssens. Diperoleh hasil dualterapi tertnggi diberikan pada komorbid gangguan kesadaran, nilai P=0,643 untuk luaran terapi dan ACER monoterapi lebih rendah (Rp.256.896,36) dibandingkan dualterapi (Rp.609.505,56) dengan antbiotk terbaik yaitu sefriakson serta kombinasi siprofoksasin-sefriakson. Terdapat hubungan antara ketepatan penggunaan dengan biaya antbiotk (r=0,282;P=0,005). Dari hasil penelitan tersebut dapat disimpulkan bahwa antara penggunaan antbiotk monoterapi dengan dualterapi tdak berbeda signifkan dalam luaran terapi, efektvitas biaya monoterapi lebih baik dibandingkan dualterapi dengan pilihan monoterapi terbaik adalah sefriakson dan dapat dipertmbangkan pemberian kombinasi siprofoksasin-sefriakson pada komorbid gangguan kesadaran serta terdapat kekuatan hubungan sedang antara ketepatan penggunaan dengan biaya antbiotk extended empiric. Kata kunci: CAP; efektvitas biaya; antbiotk extended-empiric; metode Gyssens; luaran terapi. *Corresponding Author: Nurraya Lukitasari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Kec. Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424 | Email: nurraya.lukitasari@gmail.com