Dampak Investasi Sumber Daya Manusia terhadap Distribusi Pendapatan (R.K. Sitepu et al.) 117 DAMPAK INVESTASI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN DI INDONESIA 1) (The Impact of Human Capital Investment on Income Distribution and Poverty Incidence in Indonesia) Rasidin Karo Karo Sitepu, Bonar M. Sinaga 2) , Rina Oktaviani 2) , dan Mangara Tambunan 2) ABSTRACT The research objectives are to analyze impact of human capital investment on income distribution and poverty incidence using the computable general equilibrium (CGE) Model. The model is combined with beta distribution function and Foster-Greer-Thorbecke. The human capital investment is approached by government expenditure for education and health. The simulation result shows that human capital investment is able to increase economic growth and household income. Income distribution especially in rural area becomes more equal which is shown by the beta distribution move to the right side of poverty line. Poverty incidence, poverty gap and poverty severity also decrease except for non-labor household group in the urban area. Human capital investment gives more benefit to household in rural area than those in urban area especially for farm-laborer and agriculture entrepreneur household group in the rural area. Key words: CGE model, Foster-Greer-Thorbecke, beta distribution function, human capital investment, poverty line PENDAHULUAN Kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan selalu menjadi topik pembicaraan karena peubah tersebut hampir dialami oleh semua negara di dunia, tetapi dengan tingkat kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan yang bervariasi. Keseriusan pemerintah menangani kemiskinan terlihat sejak tahun 1970-an dan pada tahun 2002, dengan membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) melalui Keppres No. 124 Tahun 2002. Sasarannya adalah mengurangi jumlah penduduk miskin absolut 40%. Pascakrisis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2000 sebesar 4.92%, ternyata kondisi ini belum mampu menciptakan lapangan kerja dan menyerap tambahan angkatan kerja yang muncul sekitar 2.5 juta setiap tahun, akibatnya jumlah pengangguran meningkat, sebesar 9.76 juta orang tahun 2001-2004. Lambatnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya jumlah pengangguran mengakibatkan jumlah penduduk miskin belum dapat diturunkan setelah krisis, tercatat bahwa tahun 2002 penduduk miskin sebesar 38.4 juta jiwa, angka ini lebih besar jika dibandingkan dengan sebelum krisis, yaitu sebesar 34.5 juta jiwa pada tahun 1996 (BPS, 2002). 1) Bagian dari disertasi penulis pertama, Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Sekolah Pascasarjana IPB 2) Berturut-turut Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing