[1] METODE-METODE IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAERAH TANGKAPAN AIR SUNGAI BAWAH TANAH DAN MATAAIR KAWASAN KARST: SUATU TINJAUAN Ahmad Cahyadi 1 , Elok Surya Pratiwi 2 , Hendy Fatchurohman 3 1 Magister Perencanaan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada 1,2,3 Jurusan Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada Email: 1 ahmadcahyadi@geo.ugm.ac.id INTISARI Proses perkembangan sistem hidrologi di kawasan karst yang dipengaruhi oleh lorong- lorong pelarutan menyebabkan kondisi anisotropis pada airtanah. Kondisi ini menyebabkan pendefinisian karakteristik daerah tangkapan air sungai bawah tanah dan mataair di kawasan karst sangat sulit dilakukan. Tulisan ini bermaksud memaparkan beberapa pendekatan yang digunakan untuk mendefinisikan karakteristik daerah tangkapan air sungai bawah tanah dan mataair di kawasan karst. Beberapa metode yang sering digunakan misalnya metode survei dan eksplorasi, metode pelacakan (tracer), serta invers model. Kata Kunci : Karst, Sistem Aliran, Karakteristik Daerah Tangkapan Air PENDAHULUAN Kawasan karst merupakan kawasan yang memiliki keunikan bentuk permukaan bumi/eksokarst dan bentuk di dalam bumi/endokarst (Worosuprojo dkk, 1997). Keunikan tersebut terjadi karena proses pelrutan yang terjadi pada batuan yang mudah larut dengan hujan dan karbondioksida (Ford dan Williams, 1992; Adji dkk, 1999; Veni dan DuChene, 2001). Batsan yang lebih jelas tentang kawasan karst disampaikan oleh White (1988) bahwa kawasan karst paling tidak memiliki tiga ciri, yaitu (1) terdapatnya cekungan-cekungan tertutup, (2) jarangnya atau tidak ditemukannya sungai permukaan dan (3) berkembangnya drainase bawah permukaan dan sistem gua. Proses pelarutan di kawasan karst telah menyebabkan terbentuknya lorong-lorong pelarutan. Proses tersebut menyebabkan porositas yang dominan adalah porositas sekunder yang anisotropis (tidak sama ke segala arah). Hal ini menyebabkan batas topografi di bagian permukaan bumi tidak berhubungan dengan batas hirologi dari suatu sungai bawah tanah. Padahal, karakteristik ini begitu penting untuk merencanakan pengelolaan lingkungan pada kawasan karst khususnya sungai bawah tanah dan mataair. Raeisi dan Karami (1997) menyebutkan bahwa sistem aliran di kawasan karst dapat dibagi menjadi dua, yaitu sistem lorong dengan ukuran yang besar ( conduit/konduit) dan sistem lorong dengan ukuran yang kecil (diffuse/difus). Meskipun demikian, beberapa ahli seringkali menambahkan sistem difus-konduit atau sistem campuran (Gambar 1). Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa konduit merupakan perkembangan dari difus, sehingga dalam perkembangannya pasti melewati tahapan di mana kedua sistem sama-sama