75 Jurnal Penelitian Kesmasy Vol. 2 No. 1 Edition: May – October 2019 http://ejournal.delihusada.ac.id/index.php /JPKSY Received: 24 October 2019 Revised: 28 October 2019 Accepted: 31 October 2019 FAKTOR DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI DI PUSKESMAS JUHAR KECAMATAN JUHAR KABUPATEN KARO Felix Kasim, Astuti Ginting Institut Kesehatan Deli Husada Delitua e-mail: felix_kasim@yahoo.com Abstract The related factors that suspected to be employee motivation’s based on Frederick Herzberg's theory are intrinsic and extrinsic factors which consisting of achievement, reward, responsibility, work environment, superiors / subordinate communication, and supervision. The purpose of this research is to analyze the determinants of factors associated with employee motivation. This research is quantitative research with the survey is the method through an explanatory research approach. The research was conducted at Juhar Public Health Center, Karo District. The population of this research is 52 people and the sample is 52 people. Data analysis use univariate analysis, bivariate analysis with chi-square, and multivariate analysis use multiple logistic regression test. The results showed that factors related to employee motivation in Puskesmas Juhar, Juhar Sub- district, Karo Regency in 2018 were responsibility, subordinate-supervisor communication, and supervision, there was a significant correlation. The most dominant variable related to this research is the variable of responsibility and the value of PR = 9,122. Personnel responsible for their job has a high work motivation 9.1 times higher than irresponsible employees. Unrelated variables are achievement, reward and work environment. It is suggested to the irresponsible staff of public health center to better understand their duties and responsibilities as employees to be more motivated in working and program targets can be achieved. Keywords: motivation, work motivation, employee. 1. PENDAHULUAN Motivasi merupakan karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor- faktor yang menyebabkan, menyalurkan, dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (Nursalam, 2014). Dampak dari motivasi kerja pegawai yang rendah adalah disiplin kerja yang juga rendah seperti keterlambatan pegawai datang di tempat kerja, kurang bertanggung-jawabnya pegawai terhadap pekerjaan, tidak tercapainya program-program puskesmas, dan sebagainya. Hal ini juga terjadi pada tenaga-tenaga kesehatan baik di instansi swasta maupun instansi pemerintah seperti di Puskesmas (Mangkunegara, 2013). Sebuah studi oleh perusahaan berinteraksi dengan 1000 pekerja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kurangnya penghargaan dari manajer mereka adalah keluhan nomor 1 (63%). Ini bukan karena mereka perlu bermain di tempat kerja. Ketika manajer mengenali kontribusi karyawan, motivasi bekerja mereka meningkat sebesar 60% (Bangun, 2014). McLean & Company menemukan bahwa karyawan termotivasi bekerja pada perusahaan yang terlibat, menumbuhkan keuntungan sebanyak 3 kali lebih cepat dari pesaing mereka. Karyawan yang terlibat menunjukkan 87% lebih kecil kemungkinan untuk meninggalkan organisasi. Dalam penelitian David MacLeod dan Nita Clarke menemukan perusahaan dengan nilai motivasi dan kinerja rendah memperoleh pendapatan operasional 32,7% lebih rendah daripada perusahaan dengan karyawan yang lebih banyak terlibat. Demikian pula, perusahaan dengan tenaga kerja yang sangat berpengalaman mengalami pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 19,2% selama periode 12 bulan. Organisasi yang memiliki sarana resmi untuk mengetahui pengalaman kontribusi karyawan, rata-rata meningkatkan 14% hasil keuangan mereka (Greatify, 2016). Menurut World Health Organization (WHO) bahwa Indonesia masuk dalam 5 negara dengan motivasi tenaga kesehatan paling rendah, selain Vietnam, Argentina, Nigeria dan India. Hal ini disebabkan dari aspek pemenuhan kesejahteraan (Gustin, 2017).