Warta Pengabdian, Volume 14, Issue 3 (2020), pp.173-180 doi: 10.19184/wrtp.v14i3.17172 © University of Jember, 2020 Published online September 2020 Anak di Embung Cinta: Pembentukan Wisata Ramah Anak di Kelurahan Nangkaan Bondowoso Sapti Prihatmini, Dina Tsalist Wildana, Fanny Tanuwijaya, Al Khanif, Jauhari Zakkiy Annas Fakultas Hukum, Universitas Jember dinawildana@unej.ac.id Abstrak Kelurahan Nangkaan memiliki keindahan alam berupa embung yaitu cekungan penampung air yang berguna untuk menjaga kualitas air, mencegah banjir dan berguna untuk irigasi sawah. Menariknya embung ini berbentuk hati hingga disebut dengan embung cinta. Keindahan alam ini dimanfaatkan untuk membentuk Desa Wisata Embung Cinta. Lebih khusus, desa wisata ini akan mengusung konsep ramah anak. Metode Asset Based Community Development (ABCD) akan menjadi berbagai kondisi kelurahan Nangkaan sebagai aset yang dapat dikembangkan menuju desa wisata ramah anak. Hasil kegiatan ini adalah berupa kesepakatan ide pembentukan desa wisata ramah anak dari para stake holder meliputi Kepala Pemerintahan Kelurahan Nangkaan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat. Beberapa program awal yang telah dilakukan adalah menyelenggaran lomba lukis dengan promosi tempat wisata dan membuat konsep wisata ramah anak. Masih banyak tahapan yang harus dilakukan menuju desa wisata ramah anak. Tentunya memerlukan dukungan dari berbagai pihak dan semangat yang harus terus dibangun. Kata Kunci: Desa Wisata, Ramah anak, Asset Based Community Development. Abstract Nangkaan Village is blessed with natural beauty in the form of a reservoir which is a reservoir of water that is useful to maintain water quality, prevent flooding and is useful for irrigation of rice fields. Interestingly, this embung is heart-shaped to be called the embung of love. This natural beauty is used to form the Embung Cinta Tourism Village. More specifically, this tourist village will carry the concept of child- friendly. The Asset Based Community Development (ABCD) method will be a variety of conditions in the Kelangkaan village as an asset that can be developed towards a child-friendly tourism village. The results of this activity are several programs carried out such as holding painting contests and making child-friendly tourism concepts. Keywords: Tourism Village, Child Friendly, Asset Based Community Development I. PENDAHULUAN Saat ini desa berlomba-lomba mengembangkan potensi wilayah masing-masing, tidak terkecuali desa wisata. Hal ini dapat menjadikan desa menjadi desa mandiri dan berkembang. 1 Sebelumnya telah bermunculan desa yang berhasil mengembangkan wisatanya seperti menjadikan alam sebagai obyeknya seperti Desa Klaten dengan wisata airnya, Desa Pujon malang dengan wisata cafe dan masih banyak lagi. 1 “Desa Wisata Diyakini Memberi Kemajuan Pengembangan Desa”, (13 August 2019), online: Repub Online <https://republika.co.id/share/pw6gsa423>, Library Catalog: republika.co.id.