B I O D I V E R S I T A S ISSN: 1412-033X Volume 9, Nomor 1 Januari 2008 Halaman: 9-12 Alamat korespondensi: Jl. Raya Bogor Km.46 Cibinong 16911 Tel. +62-21-8754587; Fax. +62-21-8754588 e-mail: d_priadi@telkom.net Pertumbuhan In vitro Tunas Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) pada Berbagai Bahan Pemadat Alternatif Pengganti Agar The growth of cassava (Manihot esculenta Crantz) on various alternative gelling agents DODY PRIADI , HANI FITRIANI, ENNY SUDARMONOWATI Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911 Diterima: 20 Nopember 2007. Disetujui: 27 Desember 2007. ABSTRACT Gelling agents which is an important component in plant tissue culture media is considered expensive which causes high cost of plant micropropagation in developing countries. The objective of the study was to evaluate various commercial starches (hunkue, sago, tapioca, maize and arrowroot) and food agars for substitution of standard technical agar which commonly used in tissue culture medium. Young stem cuttings with five buds of cassava (Manihot esculenta Crantz. genotype Iding and Gebang) cultured on MS hormone-free media solidified with those starches and agars. Parameters observed were total and length of shoots and rate of contamination. Result of study showed that the highest total shoots (2.45) on genotype Iding obtained from Agar Swallow 0.8% (control), meanwhile on Gebang (2.85) obtained from tapioca 25%. The highest shoot length on genotype Iding (17.2 mm) obtained from maize, meanwhile on Gebang obtained from agar Sinar Kencana 2% (8.95 mm). Contamination rate of explants caused by bacteria or fungi on genotype Iding was 30-70%, meanwhile on Gebang was 20-60%. Further study needs to be done to evaluate more gelling agents from different sources and their combinations. © 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: medium, gelling agents, agar, starch, cassava (Manihot esculenta Crantz). PENDAHULUAN Bahan pemadat (gelling agents) merupakan salah satu komponen yang penting di dalam media kultur jaringan tanaman maupun mikroorganisme. Media yang dipadatkan secara sempurna dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan jaringan tanaman maupun mikroorganisme, karena dapat memelihara proses biokimia dan fisiologisnya (Maliro dan Lameck, 2004). Bahan pemadat yang digunakan dalam kultur jaringan tanaman adalah jenis agar standar khusus untuk kultur jaringan tanaman yang umumnya masih diimpor, misalnya merek Bacto, Oxoid atau Gelrite dan Phytagel. Salah satu kendala penggunaan bahan pemadat impor di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah harganya yang mahal, dan kadang kala memerlukan waktu yang relatif lama untuk memperolehnya. Hal ini mendorong para peneliti di negara berkembang untuk mencari bahan pemadat alternatif dari berbagai tumbuhan umbi-umbian dan sereal, misalnya dari pati ubi kayu (Dabai dan Muhammad, 2005) dan guar gum (diisolasi dari endosperma Cyamopsis tetragonoloba), isubgol (diisolasi dari kulit biji Plantago ovata) (Jain dan Babbar, 2004) dan tepung maizena (Henderson dan Kinnersley, 1988; Wattimena et al., 1994), serta menggunakan bahan tanaman anggrek, kentang, ubi kayu dan sebagainya. Derajat kepadatan bahan pemadat media terutama agar teknis standar kultur jaringan tanaman bergantung kepada konsentrasi dan derajat keasaman (pH). Kepadatan yang optimum biasanya tercapai pada pH 5,0-6,0 (Hartmann et al., 1990). Karakteristik pati atau bahan pemadat non agar lainnya berbeda dengan agar, sehingga untuk mencapai kepadatan yang optimum diperlukan konsentrasi yang lebih tinggi, seperti halnya campuran pati kentang dan gelatin (4% dan 8%) (Ibrahim et al., 2005). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi bahan pemadat alternatif dari beberapa jenis pati (tepung) dan agar-agar bahan kue sesuai perlakuan, serta mengidentifikasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan stek muda ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) secara in vitro sebagai tanaman model. BAHAN DAN METODE Bahan pemadat dan sumber eksplan Bahan pemadat yang diuji adalah berbagai jenis pati dan agar-agar kue yang diperoleh dari pasar tradisional maupun swalayan. Pada penelitian ini, agar Swallow tanpa zat pewarna digunakan sebagai kontrol karena sudah umum digunakan di laboratorium, sebagai alternatif agar standar kultur jaringan tanaman untuk perbanyakan melalui multiplikasi tunas majemuk. Meskipun harga agar Swallow relatif lebih mahal dari pada agar batangan, penggunaan agar Swallow yang berbentuk serbuk dinilai lebih praktis dan murni, serta diperlukan dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga memerlukan energi yang lebih sedikit pula untuk mengolahnya. Masing-masing bahan pemadat dari agar