PRIMA DIARINI RIAJAYA et al. : Waktu tanam kapas di Jawa Tengah 52 WAKTU TANAM KAPAS DI JAWA TENGAH PRIMA DIARINI RIAJAYA, MOCH. SHOLEH, dan F.T. KADARWATI Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Jl. Raya Karangploso Po Box 199, Malang – Jawa Timur ABSTRAK Curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang sangat berpengaruh terhadap produksi kapas. Variasi hujan di lahan tadah hujan Jawa Tengah sangat tinggi sehingga diperlukan penetapan waktu tanam. Waktu tanam ditetapkan berdasarkan analisis hujan lebih dari 20 tahun dari 31 stasiun hujan yang tersebar di Kabupaten Grobogan, Wonogiri, Blora, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Data dianalisis menggunakan metode peluang Markov Order Pertama dan perhitungan peluang selang kering berturut-turut. Peluang hujan yang dianalisis berupa peluang hujan mingguan lebih dari 10, 20, 30, 40, dan 50 mm. Besar peluang hujan mingguan lebih dari 60% untuk mendapatkan hujan lebih dari 20 mm dan 30 mm dipakai dalam penentuan minggu tanam, selanjutnya disesuaikan dengan peluang kering berturut-turut. Minggu tanam paling lambat (MPL) di Kabupaten Grobogan dan Wonogiri berkisar minggu I Desember sampai minggu I Januari. MPL di Kabupaten Blora, Pemalang, Tegal, dan Brebes adalah minggu I-IV Januari. Sebagian besar lahan yang digunakan untuk kapas bertekstur liat dengan kandungan liat di atas 60%. Ketersediaan air dari hujan cukup untuk memenuhi kebutuhan air kapas dan didukung oleh kemampuan tanah menyimpan air yang tinggi. Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, waktu tanam, periode kering, masa tanam, Jawa Tengah ABSTRACT Cotton planting times in Central Java Climatic elements particularly rainfall strongly influences successful prediction of rainfed cotton yield. Rainfall variability varies amongst the seasons. Longterm rainfall data were required for rainfall analysis to get reliable probabilities. The rainfall analysis was done using Markov Chain First Order Probability and dryspell probability methods. Initial and conditional probabilities of rainfall for selected amounts (10, 20, 30, 40 and 50 mm/week) were analysed. Rainfall probabilities over 60% to have 20-30 mm rainfall per week were used to identify cotton planting times. The rainfall data were collected from 31 rainfall stations in Central Java (Grobogan, Wonogiri, Blora, Pemalang, Tegal, and Brebes). The planting times varied from the first week of December to the first week of January for Grobogan and Wonogiri. The planting times in Blora, Pemalang, Tegal, and Brebes ranged from early to late January. The majority of land used for cotton has high clay content with high water holding capacity which is sufficient to meet the cotton water requirement. Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, planting time, dryspell, seasonal pattern, Central Java PENDAHULUAN Salah satu unsur iklim yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kapas di lahan tadah hujan adalah curah hujan karena pemenuhan kebutuhan air tanaman semata-mata dari hujan. Gambaran mengenai ketersediaan air bagi kapas di lahan tadah hujan sangat dibutuhkan. Lahan tadah hujan dicirikan oleh musim hujan yang pendek, variasi hujan sangat tinggi dan kapasitas tanah memegang air rendah. Distribusi hujan tidak merata di lahan tadah hujan menyebabkan tingginya resiko kegagal- an hasil akibat kekurangan air. Pengusahaan kapas di Jawa Tengah masih dilakukan di lahan tadah hujan selain lahan sawah sesudah padi yang tersebar di Kabupaten Grobogan, Blora, Wonogiri, Gunungkidul, Pemalang, Brebes dan Tegal. Penetapan waktu tanam sangat diperlukan karena adanya perbedaan kondisi lingkungan (iklim) dalam hubungannya dengan ketersediaan air pada setiap waktu. Waktu tanam yang tepat akan menjamin tanaman yang ditanam memperoleh suplai air yang cukup sesuai dengan kebutuhannya. Waktu tanam yang dimaksud telah disesuaikan dengan kebutuhan air dan distribusi hujan. Puncak kebutuhan air tanaman kapas terjadi pada saat tanaman mencapai pembungaan sampai puncak pembu- ngaan sehingga pada priode ini diharapkan tidak terjadi kekurangan air (DOORENBOS dan KASSAM, 1979). Di samping itu, bila waktu tanam tidak dilakukan tepat waktu akan menyebabkan tingginya kerusakan tanaman karena serangan hama (SOEBANDRIJO dan MUSTOFA, 1993). Status dan dinamika ketersediaan air merupakan faktor yang amat penting bagi kapas tadah hujan, hal ini berkaitan erat dengan penentuan waktu tanam. MARSHALL et al. (1994) mendapatkan bahwa kandungan air tanah pada saat tanam akan menentukan tingkat produksi kapas yang akan dicapai. Di wilayah pengembangan kapas tadah hujan, peramalan cuaca sangat dibutuhkan untuk menentukan musim tanam (BIDSTRUPT, 1994). Penggunaan data curah hujan > 20 tahun memberikan gambaran peluang hujan yang mendekati keadaan sebenarnya. Penggunaan data curah hujan jangka panjang akan membantu menentukan awal dan akhir musim hujan dengan tingkat akurasi yang lebih baik (FITZPATRICK, 1988; HANDOKO dan LAS, 1994). Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan waktu tanam kapas di lahan tadah hujan Jawa Tengah berdasarkan peluang periode kering dan awal musim hujan. METODOLOGI Jurnal Littri 11(2), Juni 2005. Hlm 52-59 ISSN 0853-8212