Kumawula : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2018 1 Kumawula, Vol. 1, No.1, April 2018, Hal 1 – 15 DOI: http://10.24198/kumawula.v1i1.16705 ISSN 2620-844X (online) Tersedia online di http://jurnal.unpad.ac.id/kumawula/index PENINGKATAN KAPASITAS PEREMPUAN WARGA BINAAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN TERHADAP ISU GENDER Binahayati Rusyidi 1 , Agus Pratiwi 2 1, 2 Pusat Riset Gender dan Anak, UNPAD 1 binahayati@unpad.ac.id, 2 aguspratiwi@gmail.com ABSTRAK Artikel mendiskusikan hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan warga binaan di lembaga pemasyarakatan terhadap isu gender. Peningkatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan selama 6 (enam) minggu terhadap perempuan yang hampir menyelesaikan masa tahanannya di lembaga pemasyarakatan wanita di wilayah Kota Bandung. Teknik pelatihan yang diterapkan meliputi kegiatan individu dan kelompok termasuk penyuluhan, diskusi, simulasi peran, pemecahan kasus dan refleksi. Pre dan post tests dilakukan untuk mengukur dampak pelatihan terhadap pengetahuan dan sikap peserta terhadap isu jender. Uji beda sebelum dan sesudah pelatihan (t-tests) menunjukkan bahwa pelatihan meningkatkan pemahaman perempuan mengenai peran jender dan meningkatkan dukungan peserta terhadap kesetaraan jender secara signifikan. Peneliti merekomendasikan dilakukannya pelatihan secara teratur dengan sasaran yang lebih luas terhadap warga binaan perempuan. Kata kunci: isu gender, peningkatan kapasitas, perempuan warga binaan PENDAHULUAN Perempuan yang menjalani masa hukuman di lembaga pemasyarakatan (Lapas) umumnya mendapat label negatif dari masyarakat. Dalam masyarakat yang patriarkhis, perempuan sering dipandang sebagai penjaga moralitas dan norma sosial, sehingga ketika perempuan dihukum atas pelanggaran hukum yang dilakukannya, maka mereka mendapat stigma yang lebih buruk dibandingkan dengan warga binaan laki-laki. Citra buruk yang dilekatkan kepada para mantan penghuni lembaga pemasyarakatan dapat menghambat perempuan untuk menjalankan peran-peran sosialnya setelah bebas dari masa hukuman (Moore, Stuewig, & Tangney, 2012). Berdasarkan pertimbangan tersebut dipandang perlu untuk melakukan peningkatan kapasitas perempuan warga binaan yang bersiap mengakhiri masa hukumannya. Kunjungan awal ke lembaga pemsayarakatan oleh Puslitbang Gender dan Anak UNPAD (sekarang berubah menjadi Pusat Riset Gender dan Anak) sebagai tim pelaksana kegiatan menunjukkan bahwa warga binaan sangat memerlukan peningkatan kapasitas terkait dengan isu kesetaraan jender.