JURNAL ARSITEKTUR LANSEKAP ISSN: 2442-5508 VOL. 6, NO. 2, OKTOBER 2020 JAL | 230 http://ojs.unud.ac.id/index.php/lanskap Studi ruang rumah tinggal masyarakat Bali Katolik di Desa Canggu Jesica Angelia Putra 1 , Naniek Kohdrata 1* , I Dewa Gede Agung Diasana Putra 2 1. Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Indonesia 80232 2. Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Indonesia 80232 *Email: naniek_kohdrata@unud.ac.id Abstract Study of residential space of the Catholic Bali Community at the Canggu Village. Balinese culture is a complex phenomenon based on various beliefs such as Hinduism, Shiva, Buddhism and combined with ancestral traditions therefore that Bali has a special uniqueness of the ceremonial activities performed and the architecture of the building. Over time, the many interactions that enter Bali cause interactions between communities, resulting in friction between cultures which allows acculturation to occur. One of the cultural meetings that took place in Bali was the existence of a Balinese Catholic community in Canggu Village, North Kuta District, Badung Regency, Bali. Cultural meetings that take place in this village involve Balinese Hindu culture and Catholic traditions. The purpose of this study is to study the picture of cultural encounters that occur in the pattern of Catholic Balinese residences in Canggu Village. The results obtained are that the laying of each building does not consist of one building such as a traditional Balinese house, but does not adapt to the space of the mandala, at a level that adapts the concept of the tri mandala all facing towards the main road. Keywords: acculturation, Balinese Catholic, cultural meetings, spatial pattern 1. Pendahuluan Kebudayaan orang Bali merupakan fenomena kompleks yang dilandasi berbagai kepercayaan seperti; Hindu, Siwa, Budha dan berpadu dengan tradisi leluhur. Oleh karena itu penyembahan roh-roh, nenek-moyang, dan unsur-unsur alam digabungkan dengan ajaran Hindu dan sebuah falsafah yang bernama Tri _Hita_Karana. Masyarakat Bali juga mendasarkan pada nilai-nilai agama Hindu dan falsafah Tri_Hita_Karana. Falsafah hidup Tri Hita_Karana sangat menekankan adanya keharmonisan dan keseimbangan hidup antara manusia dengan manusia, manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia dengan lingkungannya. Banyaknya kebudayaan asing yang masuk ke Bali akibat interaksi antar masyarakat menyebabkan adanya pergesekan antar budaya yang terjadi sehingga memungkinkan timbulnya akulturasi dan asimilasi. Salah satu pertemuan budaya yang terjadi di Bali adalah adanya masyarakat Bali Katolik di Desa Canggu Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Pertemuan budaya yang terjadi pada desa ini melibatkan kebudayaan Hindu Bali dan tradisi Katolik. Adanya tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang dihadapi sehingga masyarakat Katolik di Desa canggu tersebut membutuhkan usaha-usaha untuk menstabilkan keadaan dan memperkecil perbedaan-perbedaan dari kedua belah pihak. Cara yang digunakan oleh masyarakat Katolik ini adalah dengan melakukan integrasi pada sistem sosial yang sudah ada maupun adaptasi budaya lokal (Hindu Bali) kedalam budaya Katolik termasuk di dalamnya adalah adaptasi arsitektural bagunan tempat ibadah (gereja) dan tempat tinggal yang digunakan oleh masyarakat Hindu Bali. Tujuan studi ini untuk mengetahui pertemuan budaya yang terjadi pada ruang rumah tinggal Masyarakat Bali Katolik di Desa Canggu. 2. Metode Penelitian ini dilakukan di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Penelitian ini hanya dilakukan pada dua banjar adat, yakni Banjar Padang Tawang dan Banjar Babakan. Keduia banjar ini dipilih karena lokasi tersebut adalah awal terbentuknya masyarakat Bali Katolik di Desa Canggu.