33 Terbit online pada laman web jurnal http://ejournal2.pnp.ac.id/index.php/jtm JURNAL Teknik Mesin Vol. 14 No. 1 (2021) 33 - 39 ISSN Media Elektronik: 2655-5670 Hasil Pengujian Proksimasi Dan Gas Buang Pada Briket Campuran Limbah Serutan Kayu, Sekam Padi Dan Bulu Ayam Muhamad Rizky Adipratama 1 , Reza Setiawan 2 , Najmudin Fauji 3 1,2,3 Teknik Mesin, Universitas Singaperbangsa Karawang 1 rizkypratama2229@gmail.com, 2 reza.setiawan@staff.unsika.ac.id, 3 najmudin.fauji@staff.unsika.ac.id Abstract Biomass energy is one that can be used as an alternative energy as a substitute for fossil fuels and can also be useful for reducing environmental pollution due to increasing waste or waste. The manufacture of briquettes from chicken feather waste, wood shavings and rice husk waste aims to help deal with the problem of waste and use it as an alternative fuel. The making of briquettes is carried out by the process of drying the ingredients, charcoal, milling, sieving, kneading, printing, drying, proximate testing and measuring emissions on the briquettes. In this study, the composition of a mixture of chicken feathers (30%, 40%, 50%), wood shavings and rice husk (35%, 30%, 25%) was treated as well as particle sizes of 30 mesh and 60 mesh. The results of this study indicate that the lowest moisture content is in sample B2 of 4.5%. The lowest levels of volatile matters were in sample A1 of 37.4%. The lowest ash content was found in sample B3 at 10.8%. The highest fixed carbon was found in sample A3 at 45.1%. The highest calorific value (Gross Calorific Value) is found in the B3 sample of 5594 Kcal / Kg. And it has the highest CO, CO 2 , and HC emissions produced from the briquettes, namely 0.24%, 0.8%, 46 ppm. The properties of briquettes that have met SNI standards are moisture content, calorific value (except for sample A1), and the resulting emissions. And those that have not met SNI standards are the levels of volatile matter, ash content and fixed carbon. The resulting briquette can be used because the calorific value obtained is quiet high, which is above the specified standard of ≥ 5000 Kcal/Kg. Keywords: briquettes, proximate test, heating value, emission. Abstrak Energi biomassa menjadi salah satu yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil juga dapat berguna untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah atau limbah yang terus bertambah. Dibuatnya briket dari limbah bulu ayam, limbah serutan kayu dan sekam padi bertujuan untuk membantu menangani permasalahan limbah dan memanfaatkannya menjadi bahan bakar alternatif. Pembuatan briket dilakukan dengan proses pengeringan bahan, pengarangan, penggilingan, pengayakan, pengadonan, pencetakan, penjemuran, uji proksimat dan pengukuran emisi pada briket. Pada penelitian ini memiliki perlakuan komposisi campuran bahan bulu ayam (30%, 40%, 50%), serutan kayu dan sekam padi (35%, 30%, 25%) serta ukuran partikel 30 mesh dan 60 mesh. Hasil dari penelitian ini menunjukan Kadar air terendah terdapat pada sampel B2 sebesar 4,5%. Kadar zat terbang terendah terdapat pada sampel A1 sebesar 37,4%. Kadar abu terendah terdapat pada sampel B3 sebesar 10,8%. Kadar karbon tertinggi terdapat pada sampel A3 sebesar 45,1%. Nilai kalor (Gross Calorific Value) tertinggi terdapat pada sampel B3 sebesar 5594 Kcal/Kg. Dan memiliki emisi CO, CO 2 , dan HC tertinggi yang dihasilkan dari briket tersebut yaitu sebesar 0,24%, 0,8%, 46 ppm. Sifat briket yang telah memenuhi standar SNI yaitu pada kadar air, nilai kalor (kecuali pada sampel A1), dan emisi yang dihasilkan. Dan yang belum memenuhi standar SNI yaitu pada kadar zat terbang, kadar abu, dan kadar karbon. Briket yang dihasilkan dapat digunakan karena nilai kalor yang didapat cukup tinggi yaitu di atas standar yang ditentukan sebesar ≥ 5000 Kcal/Kg. Kata kunci: briket, uji proksimat, nilai kalor, emisi. 1. Pendahuluan Saat ini di Indonesia sebagian besar penggunaan energinya berasal dari bahan bakar fosil, yaitu gas, batu bara, dan minyak. Kerugian penggunaan bahan bakar fosil ini selain merusak lingkungan, juga tidak terbarukan (nonrenewable) dan tidak berkelanjutan (unsustainable) [1]. Karena meningkatnya penggunaan bahan bakar di Indonesia setiap tahunnya, kita juga dituntut untuk dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Sebagai langkah untuk dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi, kita bisa mengembangkan dan menggunakan sumber-sumber