ORIGINAL ARTICLE Intisari Sains Medis 2020, Volume 11, Number 2: 814-822 P-ISSN: 2503-3638, E-ISSN: 2089-9084 814 Open access: http://isainsmedis.id/ CrossMark Published by DiscoverSys 1 PPDS-1 Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana- RSUP Sanglah Denpasar, Bali- Indonesia 2 Divisi Bedah Trauma, Departemen/KSM Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana-RSUP Sanglah Denpasar, Bali-Indonesia 3 Departemen/KSM Bedah Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana-RSUP Sanglah Denpasar, Bali-Indonesia * Correspondence to: Krishna Kurnia Pratama, PPDS-1 Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana-RSUP Sanglah Denpasar, Bali-Indonesia kpratama26@gmail.com Diterima: 03-03-2020 Disetujui: 09-07-2020 Diterbitkan: 01-08-2020 ABSTRACT Background: Gastrointestinal perforation is an emergency condition in the surgical feld and can cause several complications. One of the hardest is intraabdominal hypertension which can develop into abdominal compartment syndrome. This study aims to evaluate for risk factors associated with intraabdominal hypertension in patients with gastrointestinal organ perforation at Sanglah Hospital in January 2017-December 2018. Methods: This study used a cross-sectional design involving 136 samples, involving patients with perforated gastrointestinal organs treated at Sanglah Hospital Denpasar, January 2017-December 2018. The data source was in the form of patient medical records. Chi-square test and logistic regression were used to assess the relationship of risk factors for intraabdominal hypertension. Results: The majority of respondents were male, aged 15-64 years, perforation of the gastrointestinal organ that occurs through mechanical trauma, sepsis, leukocytosis, and not hypoalbumin. Two variables were found to be signifcant, namely sepsis and hypoalbumin conditions. Only the condition of sepsis has a pure relationship with the occurrence of intraabdominal hypertension. The condition of sepsis has a risk of 0.262 times greater causing intraabdominal hypertension in patients with gastrointestinal hollow organ perforation compared with patients who do not experience sepsis. Conclusion: It is best to monitor intraabdominal pressure closely, especially in patients with sepsis, hypoalbumin, and those suspected of having perforations in hollow organs. Keywords: hollow organ perforation, intraabdominal hypertension, sepsis, hypoalbumin. Cite This Article: Pratama, K.K., Sudiasa, K., Golden, N. 2020. Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi intraabdominal pada pasien dengan perforasi organ berongga saluran cerna di RSUP Sanglah Denpasar dari Bulan Januari 2017-Desember 2018. Intisari Sains Medis 11(2): 814-822. DOI: 10.15562/ism.v11i2.723 ABSTRAK Latar Belakang: Perforasi organ berongga saluran cerna merupakan kondisi kegawat daruratan di bidang bedah dan dapat menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi salah satu yang terberat adalah hipertensi intraabdominal yang dapat berkembang menjadi sindrom kompartemen abdomen. Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi intraabdominal pada pasien dengan perforasi organ berongga saluran cerna pada pasien perforasi organ berongga saluran cerna di RSUP Sanglah bulan Januari 2017-Desember 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yang melibatkan 136 sampel penelitian, yang melibatkan pasien dengan perforasi organ berongga saluran cerna yang dirawat di RSUP Sanglah Denpasar, bulan Januari 2017-Desember 2018. Sumber data berupa rekam medis pasien. Uji chi-square dan regresi logistik digunakan untuk mengkaji hubungan faktor risiko dari hipertensi intraabdominal. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berusia 15-64 tahun, perforasi organ berongga saluran cerna yang terjadi melalui mekanis me trauma, mengalami sepsis, leukositosis, dan tidak hipoalbumin. Dua variabel ditemukan signifkan yakni, kondisi sepsis dan kondisi hipoalbumin. Hanya kondisi sepsis yang memiliki hubungan murni dengan terjadinya hipertensi intraabdominal. Kondisi sepsis berisiko 0,262 kali lebih besar menyebabkan terjadinya hipertensi intraabdominal pada pasien perforasi organ berongga saluran cerna dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami sepsis. Simpulan: Sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan intraabdominal secara ketat, tertama pada pasien dengan sepsis, hipoalbumin, dan yang dicurigai mengalami perforasi pada organ berongga. Kata kunci: perforasi organ berongga, hipertensi intraabdominal, sepsis, hipoalbumin. Cite Pasal Ini: Pratama, K.K., Sudiasa, K., Golden, N. 2020. Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi intraabdominal pada pasien dengan perforasi organ berongga saluran cerna di RSUP Sanglah Denpasar dari Bulan Januari 2017-Desember 2018. Intisari Sains Medis 11(2): 814-822. DOI: 10.15562/ism.v11i2.723 Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi intraabdominal pada pasien dengan perforasi organ berongga saluran cerna di RSUP Sanglah Denpasar dari Bulan Januari 2017-Desember 2018 Krishna Kurnia Pratama, 1* Ketut Sudiasa, 2 Nyoman Golden 3