https://doi.org/10.22435/blb.v15i2.1625 115 Evaluasi Penularan Filariasis Limfatik di Provinsi Riau dan Bangka Belitung: Parasit pada Manusia dan Reservoir Evaluation of Lymphatic Filariasis Transmission in Riau and Bangka Belitung Province: Parasite Infection on Human and Vector Santoso 1* , Yahya 1 , Lasbudi Pertama Ambarita 1 , Anif Budiyanto 1 , Nungki Hapsari Suryaningtyas 1 , I Gede Wempi DSP 1 , Yanelza Supranelfy 1 , Tanwirotun Ni’mah 1 , Anorital 2 , Rita Marleta 2 1 Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja Jalan A. Yani KM 7, Kemelak, Baturaja, Sumatera Selatan, Indonesia 2 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Jalan Percetakan Negara No 29, Jakarta, Indonesia *E_mail: santosobaturaja@gmail.com Kontributor Utama Received date: 05-04-2019, Revised date: 29-07-2019, Accepted date: 11-10-2019 ABSTRAK Pengobatan massal dan survei evaluasi penularan filariasis merupakan strategi dalam pengendalian limfatik filariasis. Surveilans periode stop Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) perlu dilakukan setahun sekali selama 5 tahun sebelum mendapatkan sertifikat eliminasi filariasis. Tujuan penelitian ini untuk menentukan status eliminasi filariasis di daerah yang telah melakukan pengobatan massal selama 5 tahun selama bulan Juli-November 2017, telah dilakukan pengambilan darah jari penduduk berusia 5 tahun ke atas dan pemeriksaan terhadap hewan reservoir di Provinsi Riau dan Bangka Belitung. Hasil studi mendapatkan bahwa Mf rate di Kabupaten Kuatan Singingi dan Pelalawan di Provinsi Riau adalah <1%, sedangkan Mf rate di Kabupaten Bangka Barat dan Belitung adalah >1% dengan spesies Brugia malayi. Prevalensi kecacingan hasil pemeriksaan feses di Kabupaten Kuantan Singingi sebesar 13,6%; Pelalawan 2,4%; Bangka Barat 5,3%; dan Belitung 11,5%. Hewan reservoir positif B. malayi yaitu 2 ekor kucing (Felis cattus); 1 ekor anjing (Canis familiaris), dan 1 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Provinsi Riau sudah tidak menjadi daerah endemis filariasis (Mf rate <1%), sedangkan Provinsi Bangka Belitung Mf rate masih >1%. Risiko penularan di Kabupaten Kuantan Singingi sudah rendah, sedangkan di Kabupaten Pelalawan, Bangka Barat, dan Belitung masih tinggi. Kata kunci: Riau, Bangka Belitung, limfatik filariasis, reservoir, evaluasi ABSTRACT Mass treatment and evaluation surveys of filariasis transmission were strategies in the control of lymphatic filariasis. Mass Drug Administration (MDA) stop period surveillance is required for five years before obtaining a lymphatic filariasis elimination certificate. The aim of conducting the study was to evaluate the activities of lymphatic filariasis elimination in areas that have been doing MDA for five years. During July-November 2017, fingertip blood samples of people aged five years and examination of reservoir animals was done in Riau and Bangka Belitung Province. The results of the study found that in Kuatan Singingi and Pelalawan district Mf rate was <1%, in West Bangka and Belitung districts Mf rate> 1% with all specied identified as Brugia malayi. Survey of animal reservoir obtained positive of B. malayi on two cats (Felis cattus), one dog (Canis familiaris), and one monkey (Macaca fascicularis). Riau Province was not a filariasis endemic area (Mf rate <1%), while Bangka Belitung Province Mf rate was still >1%. The risk of transmission in Kuantan Singingi District was already low, while in Pelalawan regency, West Bangka and Belitung were still high. Keywords: Riau, Bangka Belitung, lymphatic filariasis, reservoir, evaluation PENDAHULUAN Limfatik filariasis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Sampai akhir tahun 2016, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia dilaporkan 236 kabupaten/kota endemis filariasis. Dari 236 kabupaten/kota