Jurnal Medika Veterinaria Februari 2021, 15 (1):1-6 P-ISSN: 0853-1943; E-ISSN: 2503-1600 DOI: https://doi.org/10.21157/j.med.vet..v14i2.20856 1 The Sensitivity Level Of Gentamicine, Cholramphenicol and Penicillin Inhibiting The Growth Of Pseudomonas Aeruginosa Bacteria Isolate From Aceh Bull Prepunce *Masda Admi 1,5 , Annisa Anwar Sitorus 2 , Rinidar 3 , Amalia Sutriana 3 , Rosmaidar 3 , Sugito 4 1 Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 2 Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 3 Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 4 Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 5 Center for Tropical Veterinary Studies-One Health Collaboration Center, Universitas Syiah Kuala *Alamat Korespondensi: admi.masda@unsyiah.ac.id ABSTRACT This study aims to determine the sensitivity level of gentamicin, chloramphenicol and penicillin antibiotics to inhibit the bacterial growth of P. aeruginosa taken from preputium isolate of Aceh cattle. This Stock of Pseudomonas aeruginosa isolate from Microbiology Laboratory of FKH USK, re-identified its purity through: indole test, methyl red test, sugar test and as well as on Nutrient Broth (NB) media; incubated at 37ÂșC for 24 hours; observed the turbidity level of 0.5 Mc Farland solution. Then, the antibiotic sensitivity test was carried out using the method of Mueller Hinton Agar (MHA). The observations were made by measure the inhibition zone using the calipers in millimeters (mm) against antibiotics. The results of the observation of the inhibition zone on the gentamicin antibiotic was averaged of 25.5 mm, 23.7 mm chloramphenicol, and 12.1 mm penicillin. This study concluded that the gentamicin, chloramphenicol, and penicillin antibiotic were still effective against P. aeruginosa bacteria with the highest level of sensitivity seen in gentamicin antibiotic. Keywords: P. aeruginosa, biochemical test, gentamicin antibiotic, chloramphenicol, penicillin PENDAHULUAN Organ reproduksi sapi jantan terdiri dari alat reproduksi utama yaitu gonad dan testis, saluran reproduksi yang terdiri dari epididymis, vas deferens, ampula dan urethra. Alat reproduksi luar yaitu penis dan preputium (Lestari dan Ismudiono, 2014). Preputium berupa kulit yang mempunyai banyak lipatan berbulu dan merupakan penutup glans penis yang menyimpan sisa- sisa sekresi smegma. Adanya smegma ini diduga sebagai media pertumbuhan bakteri, yang dapat mencemari sperma sehingga menyebabkan menurunnya kualitas sperma, infertil pada hewan, selain itu dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, cystitis, kanker, bakteremia, dan mengalami penurunan sistem imun, sehingga bakteri dapat berkembang dan sapi rentan terinfeksi. Salah satu bakteri yang menginfeksi organ reproduksi jantan adalah Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) yang dapat mengonkontaminasi semen dan menyebabkan penularan melalui organ reproduksi betina pada saat perkawinan alami (Ismaya, 2014; dan Haryati et al., 2017). Dampak yang ditimbulkan oleh bakteri P. aeruginosa terhadap sistem reproduksi meliputi, terjadinya syok sepsis, adanya pus pada preputium, infeksi saluran kemih, infertil pada hewan jantan dan betina, dapat menimbulkan peradangan uterus pada induk sapi atau yang dikenal sebagai penyakit endometritis (Rafika et al., 2020). Secara umum penanganan dalam mengatasi infeksi bakteri P. aeruginosa adalah pemberian obat antibiotik golongan Board spectrum seperti gentamisin dan kloramfenikol, golongan Narrow spectrum seperti penisilin. Antibiotik gentamisin pada