PENGARUH VARIASI BENTUK DAN UKURAN PONTON TERHADAP KETINGGIAN AIR Rotua Bebrianita Palentina 1 , Muhammad Rif’an 2 , Massus Subekti 3 , 1 , 2.3. Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta 1 Email : bebri_geheimnisvoll@yahoo.com Abstract. This study aims to determine the influence of the shape and size of the buoy to the height of the air.The research method used is the method of development. Development of PLTA-GL.By changing the shape of the buoy with 3 variations of form, ie: kubu, tube, and ball but the volume size is fixed and by changing the size of buoy with 3 variationd size of from; 0,1m 3 , 0,125m 3 , dan 0,15m 3 but the shape is fixed. From the research results obtained that the highest water level on the buoy ball with 0,15m 3 whit water height of 28,1575251 meters and the lowest water level is on the buoy shaped cubes with volume 0,1m 3 with water level of 14,01078389 meters Keywords: Size Ponton, Shape of ponton,water level Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk dan ukuran ponton terhadap ketinggian air. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode Pengembangan. Pengembangan dilakukan Pada Pembangkit Tenaga Air-Laut (PLTA-GL). Dengan mengubah-ubah bentuk ponton dengan 3 variasi bentuk yaitu, kubus, tabung, dan bola namun ukuran volume tetap dan dengan mengubah-ubah variasi ukuran volume ponton ke dalam 3 variasi yaitu; 0,1m 3 , 0,125m 3 , dan 0,15m 3 namun bentuk tetap. Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa ketinggian air tertinggi pada ponton bola dengan volume 0,15 m 3 dengan ketinggian air sebesar 28,1575251 meter, dan ketinggian air terendah terdapat pada ponton kubus dengan volume 0,1 m 3 dengan ketinggian air sebesar 14,01078389 meter. Kata Kunci : Ukuran Ponton, Bentuk Ponton, Ketinggian Air PENDAHULUAN Menurut Badan Pusat statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1920, 1961, 1971, 1980,1990, 2000, 2010 berturut-turut ialah 60,7 juta jiwa; 97,1 juta jiwa; 119,2 juta jiwa; 146,9 juta jiwa; 178,6 juta jiwa; 205,1 juta jiwa; dan 237,6 juta jiwa. Dengan, jumlah penduduk yang besar dan terus meningkat menyebabkan permintaan konsumsi energi menjadi besar dan akan terus meningkat. Meningkatnya kebutuhan akan energi dapat terlihat juga dari data mengenai besarnya energi yang dibutuhkan dari tahun 2004 sampai tahun 2014. Menurut Kementrian Energi Dan Sumber Daya Mineral (2016: 15), Selama periode 2004 sampai dengan 2014, konsumsi energi primer Indonesia meningkat dari 127 juta TOE (Tonnes Oil Equivalent atau setara ton minyak) menjadi 215 juta TOE (Tonnes Oil Equivalent atau setara ton minyak), atau tumbuh 5,4% per tahun. Menurut Suyitno (2011: 41) konsumsi energi dunia dari tahun 1960-1990 meningkat dari 63,5 JBMEH (jutaan barel minyak ekuivalen per hari) menjadi 173,0 JBMEH (jutaan barel minyak ekuivalen per hari). Sehingga dapat terlihat kebutuhan energi di Indonesia dan didunia yang meningkat dari waktu ke waktu. Energi merupakan kemampuan untuk melakukan suatu kerja. energi dihasilkan dari beragam sumber energi seperti matahari, batu bara, angin, dan gas. Sumber energi adalah segala sesuatu yang mampu menghasilkan energi. Sumber energi dibagi menjadi sumber energi yang terbarukan dan sumber energi tak terbarukan. Energi terbarukan merupakan energi yang ramah lingkungan dan lestari. Energi tak terbarukan merupakan sumber energi yang jumlahnya terbatas memiliki dampak negatif dari penggunaannya yaitu dapat mencemari lingkungan dan efek pemanasan global. Energi tak terbarukan meliputi batu bara, minyak bumi, nuklir dan gas bumi.Energi terbarukan dibagi menjadi energi matahari, energi air, energi panas bumi, energi biomassa, energi angin dan energi sumber daya laut. Menurut Kementrian ESDM (2016:22), potensi energi gelombang laut di Indonesia cukup besar berkisar antara 10-20 kW per meter gelombang, meskipun cukup menjanjikan namun pengembangan teknologi pemanfaatkan energi gelombang laut di Indonesia saat ini masih belum optimal. Untuk mendapatkan Pembangkit Listrik Tenaga Air Gelombang Laut (PLTA-GL) yang