Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 1, Mei 2019:25-37 DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jae.v36n1.2018.25-37 25 ANALISIS VOLATILITAS HARGA CABAI KERITING DI INDONESIA DENGAN PENDEKATAN ARCH GARCH Analizing Curly Chili Price Volatility in Indonesia Using the ARCH GARCH Approach Rizka Amalia Nugrahapsari 1* , Idha Widi Arsanti 1 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Jln. Tentara Pelajar No. 3C, Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia * Korespondensi penulis. E-mail: nugra_hapsari@yahoo.co.id Diterima: 9 Maret 2018 Direvisi: 2 April 2018 Disetujui terbit: 22 Juni 2018 ABSTRACT Chili includes a strategic commodity in Indonesia because of its high price volatility that makes it a major determinant of national inflation dynamics. The government always tries to improve its capability in implementing the chili price stabilization policy. The objective of the study is to assess the volatility of curly chili price volatility in Indonesia by using the ARCH GARCH approach with daily price data of January 2011 to December 2015. The results showed that the right model to calculate chili price volatility is ARCH(1). The price volatility was low and price movement was only influenced by the volatility in the previous day, not by the price variant, so the chili price volatility in the future will be smaller. Low volatility indicates that demand and supply characteristics were predictable. Price changes gradually and predictable. Farmers’ protection policy through import restrictions improves stability of domestic supply. The policy reduces the risk of drastic decline in prices due to imported chili, so the price volatility of chili in the period 2011–2015 was lower than the previous period. However, the seasonal price variation remains. Therefore, the policy should be supported with all season chili availability assurance. Keywords: ARCH GARCH, Capsicum annuum L., volatility, price ABSTRAK Cabai termasuk komoditas strategis di Indonesia karena harganya volatil sehingga menjadi salah satu penentu utama dinamika inflasi nasional. Untuk itu, pemerintah senantiasa berusaha meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan kebijakan stabilisasi harga cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji volatilitas harga cabai keriting di Indonesia dengan pendekatan ARCH GARCH dan data harga harian cabai keriting periode Januari 2011 hingga Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang tepat untuk menghitung volatilitas harga cabai keriting adalah ARCH(1). Hasil pendugaan model menunjukkan volatilitas harga cabai keriting rendah dan pergerakan harga hanya dipengaruhi oleh volatilitas pada satu hari sebelumnya, tidak dipengaruhi varian harga, sehingga diperkirakan volatilitas harga cabai keriting di masa datang akan semakin kecil. Volatilitas yang rendah menunjukkan karakteristik waktu permintaan dan penawaran cabai keriting dapat diprediksi. Perubahan harga terjadi bertahap dan dapat diperkirakan. Kebijakan perlindungan petani melalui pembatasan impor cabai menyebabkan penyediaan cabai di dalam negeri menjadi lebih stabil. Kebijakan ini mengurangi risiko penurunan harga secara drastis akibat masuknya cabai impor, sehingga volatilitas harga cabai pada periode 2011–2015 lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Namun, masih terdapat variasi harga musiman. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu diperkuat dengan upaya jaminan sediaan cabai sepanjang musim. Kata kunci: ARCH GARCH, Capsicum annuum L., harga, volatilitas PENDAHULUAN Cabai merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia. Namun, komoditas ini menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi karena fluktuasi harganya yang bersifat musiman di mana potensi kenaikan harga terjadi pada saat musim penghujan, bulan Ramadhan, dan menjelang tahun baru. Pusdatin (2016) menyebutkan bahwa kenaikan harga cabai pada musim tertentu cukup signifikan sehingga memengaruhi tingkat inflasi. Harga komoditas dapat dijadikan sebagai leading indicator inflasi karena harga komoditas mampu merespons secara cepat goncangan yang terjadi dalam perekonomian secara umum ( shock) dan peristiwa lain yang menghambat jalur distribusi komoditas (non-economic shock) (Furlong dan Ingenito 1996). Hal ini khususnya terjadi pada komoditas pertanian dan industri di mana komoditas tersebut merupakan komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan dan ketidakpastian makroekonomi (Joëts et al. 2017).