PENGARUH BAHAN PENGENCER SARI KACANG KEDELAI (Glycine max) TERHADAP VIABILITAS DAN NEKROSIS SPERMATOZOA DOMBA SAPUDI THE EFFECT OF SOYA BEAN(Glycine max) EXTRACTIN SPERM DILUTER TO THE SPERM VIABILITY AND NECROSIS IN SAPUDI RAM Kicky Hanis Immelda 1) , *Suherni Susilowati 2) , Ira Sari Yudaniayanti 3) 1) Student, 2) Veterinary Reproduction Department, 3) Klinik Department Faculty Veterinary Medicine, Universitas Airlangga *Corresponding author: suhernifkhunair@gmail.com; parkbogummy14@gmail.com ABSTRACT The purpose of study was to find out the effect of different concentrations of soya bean extractin sperm diluter, stored at 5°C toward sperm viability and necrosis. The semen was divided into four groups : P0: 0.1 ml sapudi ram + 1 ml of diluent yolk citrate, P1: sapudi ram 0.1 ml + 1 ml diluent soybeans extract konsentration 5%, P2: 0.1 ml sapudi ram + 1 ml diluent soybeans extract konsentration 10%, P3: 0.1 ml sheep semen + 1 ml diluent soybeans konsentration 15%. The result showed that the dose of soya bean extract diluter konsentration of 15% could increase the viability percentage and could decrease the necrosis percentage of sperm. Key words : egg yolk citrate, soya bean extract, sapudi ram, sperm quality. Pendahuluan Ternak domba (Genus ovis) merupa- kan jenis ternak yang sudah lama dike- nal masyarakat Indonesia. Salah satu ke- unggulan ternak domba adalah mudah dipelihara, produktivitas cepat, dan har- ganya relatif terjangkau sehingga berpo- tensi untuk dikembangkan. Pengemba- ngan dapat melalui peningkatan kualitas pejantan unggul untuk pembibitan. Pe- jantan unggul yang sehat fisik dan re- produksi akan menghasilkan spermatozoa yang baik untuk menghasilkan anak yang baik (Afiati dkk., 2013). Salah satu cara untuk meningkatkan sifat genetik ternak domba dengan me- laksanakan atau melakukan cara Inse- minasi Buatan (IB).Keberhasilan pelaksa- naan Inseminasi Buatan (IB) ditentukan salah satunya oleh kualitas semen yang digunakan, maka sebelum digunakan untuk inseminasi semen perlu diencerkan terlebih dahulu. Semen yang tidak dien- cerkan akan sukar mempertahankan hidupnya lebih dari 24jam, walaupun di- simpan dalam suhu 0°C sampai 5°C (Partodiharjo, 1992). Dalam proses pem- buatan semen beku, nutrisi yang terdapat pada pengencer yang digunakan sangat berperan penting dalam melindungi sper- matozoa. Oleh sebab itu, pengencer harus mampu menyediakan bahan makanan sebagai sumber energi bagi spermatozoa, melindungi spermatozoa dari kejutan dingin (cold shock), berfungsi sebagai buffer atau penyangga untuk mencegah perubahan pH, dan lain sebagainya (Arifiantini dan Yusuf, 2004). Bahan pengencer semen harus mem- punyai kriteria tidak beracun, berenergi, mampu mempertahankan kualitas semen, bersifat sebagai pelindung, buffer, anti- biotika, isotonis, keseimbangan mineral dan krioprotektan yang baik untuk ke- hidupan spermatozoa, dan bahan anti cold shock (Hardijanto dkk. 2010). Kedelai (Glycine max L. Merr) meru- pakan salah satu komoditas tanaman pangan nabati yang cukup diminati oleh masyarakat. Alasan kedelai diminati antara lain karena dalam biji kedelai terkandung zat gizi yang tinggi terutama protein dengan kualitas yang mendekati daging hewan. Di antara kacang-kacangan, kadar protein kedelai memang yang paling tinggi (Rukmana dan Yuniarsih, 1996). Ovozoa Vol. 8, No. 1, April 2019 ISSN: 2302-6464 36