39 | P a g e NELAYAN TIKU: TRADISI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL BERDASARKAN BUDAYA MASYARAKAT LOKAL BERBASIS KOMUNITAS DALAM AKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN Lucky Zamzami 1 Abstract This article based on the results of research conducted at one of the villages the coastal areas of West Sumatra, in Nagari Tiku Selatan, Tanjung Mutiara District, Agam. This area have been based on traditions since ancestors held as tradition " “membangun rumpon”, “festival Babantai and “Tolak Bala”. The role of social institutions that have been rooted in self in Tiku fishermen whose presence is needed by the community. Social institutions set up in the form of “Arisan” association (Julo- Julo), followed by wives of fishermen, Religious tradition (Yasinan), Social Death tradition, mutual assistance are bottom up. This institute aims to improve the socio- economic members and provide a sense of security and safety in public life consistently carry out its consistent activities on a regular activities. Keywords: Tiku Fishermen, Tradition, Social Institution, Role A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang alau berbicara mengenai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007; Kusnadi, 2010). Konstruksi masyarakat nelayan mengacu kepada konteks bahwa suatu konstruksi masyarakat yang kehidupan sosial budayanya dipengaruhi secara signifikan oleh eksistensi kelompok- kelompok sosial yang kelangsungan hidupnya bergantung pada usaha pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir. Dengan memperhatikan struktur sumber daya ekonomi lingkungan yang menjadi basis kelangsungan hidup dan sebagai satuan sosial, masyarakat nelayan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda dengan satuan-satuan sosial lainnya, seperti petani di dataran rendah, peladang di lahan kering dan dataran tinggi, kelompok masyarakat di sekitar hutan, dan satuan sosial lainnya yang hidup di daerah perkotaan. Bagi masyarakat nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai pedoman kehidupan, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69; Kusnadi, 2010). Setiap gagasan dan praktik kebudayaan harus bersifat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Jika tidak, kebudayaan itu akan hilang dalam waktu yang tidak lama. Kebudayaan haruslah membantu kemampuan survival masyarakat atau penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kehidupannya. Sebagai suatu pedoman untuk bertindak bagi warga masyarakat, isi kebudayaan adalah rumusan dari tujuan-tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, K 1 Penulis adalah Dosen tetap Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas