Rekayasa Sipil, Vol. 9 No. 2 . September 2020 Pp 43-51 p-ISSN 2252-7699 e-ISSN 2598-5051 DOI: http://dx.doi.org/10.22441/jrs.2020.v09.i2.02 43 Optimasi Biaya Konstruksi Dengan Menggunakan Beton Mutu Lebih Tinggi Untuk Mempercepat Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Hinawan Teguh Santoso Program Studi Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan, Politeknik Pekerjaan Umum Email: hteguhsantoso@gmail.com Abstract The construction of bridge is often constrained by environmental factors, including flooding. Kaligawe Bridge is located across the Banjir Kanal Timur (BKT) of Semarang City. In December 2018 to March 2019 there was an increase in rainfall which resulted in flooding at BKT and delayed the implementation of bridge replacement work. The demolition work on the existing pillars which should have been carried out since December 2018 and is targeted to be completed in February 2019, is constrained due to flooding. In addition, the depth of the existing plan pillar which was originally -3.50 meters below normal water level, so that the demolition can only be completed on May 31, 2019. From the 3 month delay, there is only 7 months left for completion of 2 bridges from June 2019 to the end of December 2019. Therefore, an acceleration strategy is needed to meet the completion target One of the strategies implemented is to accelerate the concrete curing time for pillar and slabs by increasing the the designed concrete strength ′ = 30 MPa to strength ′ = 35 MPa. Thus, the curing time of concrete pillar and slab that were originally 21-28 days theoretically could be accelerated to less than 7 days. The use of higher concrete strength as a step to accelerate the concrete curing time is considered effective, with the potential for cost optimization of 2,90% of the contract value. Key words: higher concrete strength, curing time, compressive strength, bridge Abstrak Pelaksanaan pekerjaan jembatan seringkali terkendala oleh faktor lingkungan, termasuk banjir. Jembatan Kaligawe terletak melintas di atas Banjir Kanal Timur (BKT), Kota Semarang. Pada bulan Desember 2018 hingga Maret 2019 terjadi kenaikan intensitas hujan yang mengakibatkan terjadinya banjir di BKT dan menghambat pelaksanaan pekerjaan penggantian jembatan. Pekerjaan pembongkaran pilar eksisting yang seharusnya dilaksanakan sejak bulan Desember 2018 dan ditargetkan selesai bulan Februari 2019, terkendala akibat banjir. Selain itu, kedalaman eksisting pilar rencana yang semula -3,50 meter di bawah muka air normal, aktual di lapangan menjadi -8.00 meter, sehingga pembongkaran baru dapat diselesaikan pada 31 Mei 2019. Dari keterlambatan 3 bulan tersebut, hanya tersisa waktu 7 bulan untuk penyelesaian 2 buah jembatan, yaitu dari Juni 2019 sampai akhir Desember 2019. Oleh karena itu, diperlukan strategi percepatan untuk dapat memenuhi target penyelesaian. Salah satu strategi yang diterapkan yaitu percepatan waktu tunggu umur beton pilar dan plat lantai dengan menaikkan mutu beton rencana ′ = 30 MPa menjadi mutu beton ′ = 35 MPa. Dengan demikian, waktu tunggu umur beton pilar dan plat lantai yang semula 21-28 hari secara teori dapat dipercepat kurang dari 7 hari. Penggunaan mutu beton lebih tinggi sebagai langkah percepatan waktu tunggu umur beton dirasa efektif, dengan potensi optimasi biaya sebesar 2,90 % terhadap nilai kontrak. Kata kunci: mutu beton lebih tinggi, waktu tunggu, kuat tekan, jembatan I. PENDAHULUN Jembatan Kaligawe terletak di ruas Jln. Kaligawe KM 2+350, Kota Semarang, Jawa Tengah. Jembatan ini terdiri atas 2 buah jembatan, yaitu Jembatan Kaligawe A dan B yang berada di atas Banjir Kanal Timur (BKT), yang menghubungkan Kota Semarang dengan Kabupaten Demak. Adanya pengendapan dan sedimentasi menyebabkan bentuk badan sungai tidak lagi sesuai dengan bentuk normalisasi pada tahun 1980-an sehingga mengakibatkan penampang basah sungai berkurang. Banyaknya sampah yang tertahan dan menumpuk di bawah Jembatan semakin memperparah berkurangnya penampang basah tersebut dan mengakibatkan terjadinya aliran balik (backwater). Sampah juga menyebabkan air sungai melimpas di atas tanggul. Pada tahun 2018 sampai dengan 2019, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali- Juana telah melakukan pekerjaan normalisasi dan peninggian tanggul sungai Banjir Kanal Timur. Dalam rangka mendukung program tersebut dan memberikan tinggi jagaan (freeboard) jembatan terhadap banjir, ditambah lagi dengan tidak