Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada 20 (2): 87-94 ISSN: 0853-6384 eISSN: 2502-5066 Terakreditasi Ristekditi Nomor: 30/E/KPT/2018 87 Copyright©2018. Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada. All Right Reserved DOI: 10.22146/jfs.36109 Penilaian Kerentanan Wilayah Pesisir Selatan Pulau Bawean terhadap Kenaikan Muka Air Laut Vulnerability Analysis of Sea Level Rise In The Southern Coast of Bawean Island Zainul Hidayah * , Agus Romadhon & Yudha Witjarnoko Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Trunojoyo Madura *Corresponding Author: zainulhidayah@trunojoyo.ac.id Abstrak Pulau Bawean merupakan salah satu pulau kecil di Jawa Timur yang memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tinggi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terdapat laporan bahwa dampak kenaikan muka air laut mulai terasa di pulau ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi dan menentukan parameter-parameter yang paling berpengaruh pada kerentanan Pulau Bawean khususnya kawasan pesisir di bagian selatan terhadap potensi bencana akibat kenaikan muka air laut. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September tahun 2017. Metode yang digunakan adalah kombinasi antara analisis data spasial memanfaatkan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografs (SIG), survey lapangan dan wawancara dengan masyarakat Pulau Bawean. Selanjutnya dilakukan penilaian (skoring) terhadap beberapa parameter utama yang terbagi dalam 3 indeks, yaitu keterbukaan/ketersingkupan, sensitivitas dan kemampuan adaptasi. Hasil perhitungan indeks kerentanan di bagian selatan Pulau Bawean menunjukkan nilai 3,371 yang termasuk kedalam kategori kerentanan rendah. Kata Kunci: Pulau Bawean; kerentanan; kenaikan muka air laut Abstract Bawean island is one of numerous small islands in East Java. This island is famous for its natural resources and high level of environmental services. However in the last few years, efects of sea level rises on the island have been reported. Objective of this research was to identify and determine parameters that have signifcant impact on the vulnerability of the island due to sea level rise events. This research was conducted from July untill September 2017. The method used for this study was a combination of spatial analysis using remote sensing and Geographical Information System (GIS), feld survey and interviews with local people. Vulnerability assesment was conducted for three parameters, namely Exposure, Sensitivity and Adaptive Capacity. The results showed that the vulnerability index in the southern part of the island is 3.381. It can be classified as low vulnerability. Key words: The Bawean Island; vulnerability; sea level rise Pengantar Wilayah pesisir memiliki produktivitas paling tinggi namun juga paling rentan dan berpeluang mendapat tekanan dari darat maupun dari laut. Sebagai kawasan yang berbatasan dengan lautan, pantai juga merupakan kawasan yang rawan terjadi permasalahan, seperti halnya masalah abrasi, perikanan tidak ramah lingkungan, penurunan kualitas lingkungan, pendangkalan pantai serta kerusakan ekosistem (Romadhon, 2014). Selain itu, salah satu bentuk bencana lain yang secara gradual mengancam lingkungan pesisir adalah kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim. Berdasarkan data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2013, rata-rata kenaikan suhu permukaan laut di bumi adalah 0,3-0,6 °C sejak akhir abad ke 19. Apabila menggunakan kecenderungan tersebut, maka pada tahun 2100 suhu permukaan laut di bumi diperkirakan naik hingga 1,4 °C (Andre, 2013; Hidayah et al., 2018). Akibat dari kenaikan suhu permukaan laut tersebut, maka laju pencairan es di kutub utara dan selatan akan semakin cepat dan pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Laporan IPCC (2013) menjelaskan bahwa kawasan pesisir pantai Asia Tenggara akan mengalami kenaikan muka air laut 10-15 persen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan muka air laut global. Kenaikan muka air laut di tahun 2050 akan mencapai hingga 50 cm dan 100 cm di tahun 2090. Proses alamiah ini berlangsung sangat lambat tanpa disadari oleh manusia sehingga hasilnya dapat terlihat setelah bertahun-tahun lamanya (Webb & Kench, 2010). Kerentanan pulau-pulau kecil dapat diartikan kemudahan suatu sistem pulau-pulau kecil mengalami kerusakan. Semakin tinggi tingkat kerentanan suatu pulau, semakin mudah pulau tersebut mengalami kerusakan dimana paling rawan dan rentan terhadap