1 MANAJEMEN E-TRAINING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING Dra. Yari Dwikurnaningsih, M.Pd. yari_bkuksw@yahoo.com Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ABSTRACT Beberapa hasil penelitian menunjukkan, masih banyak guru BK yang kurang profesional dan kualitas kinerja yang kurang memuaskan. Hasil Uji Kompe- tensi Guru Bimbingan dan Konseling (Guru BK) oleh Kemendikbud tahun 2012, rata-rata skor uji kompetensi guru BK pada aras nasional adalah 45. Salah satu upaya meningkatkan kompetensi guru adalah melalui pelatihan. Pelatihan untuk guru, sebagian besar masih dilaksanakan secara konvensional, yang memiliki banyak kelemahan dan kendala. Makalah ini disusun berdasarkan kajian terhadap beberapa hasil penelitian tingkat internasional dan nasional, serta kajian teori tentang kompetensi guru BK, manajemen pelatihan serta e-learning. Tujuan yang ingin dicapai adalah mendapatkan solusi terhadap kendala pelatihan agar program peningkatan kompetensi guru BK dapat efesien dan efektif. Hasil kajian ini menemukan satu solusi yaitu pelatihan berbasis e-learning atau e-training. E-training merupakan bentuk pelatihan berbasis WEB yang bisa diakses melalui internet sehingga pembelajar dapat belajar secara on-line ditempat mereka masing-masing. E-training memungkinkan guru-guru mengikuti pelatihan tanpa harus secara fisik pergi ke tempat pelatihan, tidak meninggalkan tugas-tugas di sekolah- nya, dapat belajar tanpa terikat waktu dan dapat belajar sesuai kecepatan mereka masing-masing serta efesien. Manajemen pelatihan meliputi peren- canaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Desain pela- tihan memperhatikan prinsip-prinsip: (1) pembuatan naskah atau storyboard; (2) tampilan; (3) interaksi; (4) kontrol; (5) bentuk; (6) susunan; (7) materi pelatihan; (8) monitoring online, (9) evaluasi proses dan hasil secara online. Kata kunci: manajemen pelatihan, e-learning, e-training, kompetensi guru BK A. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan ditentukan oleh banyak hal, seperti kurikulum, sarana prasarana, dukungan orang tua dan masyarakat, maupun political will dari pemerintah. Namun guru sebagai ujung tombak pendidikan merupakan pihak yang dianggap paling menentukan. Guru dianggap sebagai faktor yang paling banyak mempengaruhi mutu pendidikan agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, muncul berbagai usaha untuk me- ningkatkan profesionalitas guru, ter- masuk di dalamnya Guru Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari kegiatan pendidikan dalam setiap satuan pen- didikan sehingga kegiatan layanan BK tidak terlepas dari kegiatan unsur atau bidang pendidikan lainnya. Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan sebagai upaya membantu siswa agar berkembang optimal dan dapat menye- suaikan diri, serta dapat mengaktu- alisasikan kemampuan-kemampuannya (Prayitno, 1994:241). Pelaksanaan laya- nan bimbingan dan konseling dalam proses pendidikan secara fungsional sangat menentukan. Layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian tujuan- tujuan pendidikan. Oleh karena itu, bim- bingan dan konseling merupakan jantung pelaksanaan pendidikan, karena layanan bimbingan dan konseling merupakan pusat dan nadi berlangsungnya proses pendidikan (Suherman, dkk, 2008:viii). Sasaran layanan bimbingan dan konseling adalah totalitas kehidupan psikologis siswa. Melalui layanan bim- bingan dan konseling, Guru BK berupaya membantu siswa untuk meminimalkan hambatan-hambatan psikologis, sehing- ga ia dapat mengembangkan dirinya se-