Jurnal ILMU DASAR, Vol.19 No. 2, Juli 2018 :105-110 105 Journal homepage: https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID Sintesis Zeolit A dari Abu Terbang (Fly Ash) Batubara Variasi Rasio Molar Si/Al Synthesis of Zeolite A From Coal Fly Ash with Variation of Si/Al Molar Ratio Novita Andarini *) , Zuhrotul Lutfia, Tanti Haryati Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember * E-mail: novita.fmipa@unej.ac.id ABSTRACT Fly ash containing 30-36% silica and 14,52-23,78% alumina can be potentially as raw material for synthetic zeolite such as zeolite A. Zeolite A is an aluminosilicate mineral which is rich in alumina so that this zeolite has a good cation exchange capability. Zeolite A has been synthesized by hydrothermal treatment after NaOH fusion. Fly ash has been fused with NaOH at 550 0 C for 40 minutes and hydrothermally treated at 100 0 C for 5 hours. The hydrothermal treatment was conducted in some various Si/Al molar ratios from 0.90; 1.00.; 1.05; to 1.24. The zeolite A was then analyzed using XRD and XRF. The best zeolite A based on XRD result is zeolite with Si/Al molar ratio of 1.1 with crystallinity of 96,80%. The x-ray fluorescence result showed that the Si/Al molar ratios of the four zeolite samples were close to of Si/Al molar ratios of 1, 1.1, 1.21.3 respectively. Keywords: Fly ash, Zeolite A, Hydrothermal Fusion PENDAHULUAN Abu terbang merupakan limbah yang dihasilkan sekitar 80% dari pembakaran batubara (Jumaeri, et al., 2009). Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2008 limbah abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara dapat mencapai 80 ton/hari (Dinas LH Kabupaten Bandung, 2008), di sisi lain abu terbang juga mengandung beberapa komponen-komponen kimia yaitu silika sekitar 30-36% dan Al 2 O 3 sebesar 14,52-23,78%, serta beberapa komponen kimia yang lain (PJB Paiton, 2002). Kandungan silika dan alumina yang tinggi menjadikan abu terbang berpotensi sebagai bahan baku dalam pembuatan zeolit sintetis. Zeolit merupakan suatu mineral dengan komponen utama yaitu alumina dan silika. Kristal zeolit yang terdiri dari SiO 2 dan [AlO 4 ] - masing-masing membentuk struktur tetrahedral yang nantinya akan bergabung membentuk kerangka dengan cara keduanya akan saling terhubung dengan atom O sebagai atom pengikat. Kondisi [AlO 4 ] - yang bermuatan negatif tersebut membuat zeolit memiliki sisi aktif yang dapat dinetralkan dengan adanya kation. Zeolit dapat mengikat kation dengan ikatan yang lemah sehingga kation-kation yang terikat pada zeolit akan dapat digantikan dengan kation-kation yang lain. Kation-kation tersebut misalnya antara lain adalah Na + , Ca 2+ , K + , Mg 2+ dan yang lainnya. Berdasarkan hal tersebut maka zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penukar kation (Said dan Widiastuti, 2008), sedangkan jika kation yang terikat adalah proton (H + ) maka zeolit akan bersifat sangat asam sehingga dapat berguna sebagai katalis. Zeolit A merupakan mineral aluminosilikat yang kaya akan alumina sehingga zeolit ini memiliki kemampuan sebagai penukar kation yang baik. Rasio molar Si/Al untuk mensintesis zeolit A menurut Robson berada pada kisaran 1-1,3 (Nikmah, et al., 2008). Chang dan Shih (2000) yang telah mensintesis zeolit A dan X dari abu terbang dengan metode peleburan hidrotermal pada kondisi yang diperlukan untuk mensintesis zeolit A yaitu suhu peleburan 550 0 C selama 1 jam kemudian diikuti dengan proses hidrotermal pada suhu 60 0 C selama 3 hari, dan penambahan alumunium hidroksida hidrat pada campuran hasil peleburan dengan penentuan rasio molar Si/Al = 1. Fitriyana dan Sulardjaka, (2012) telah mensintesis zeolit A dari limbah geotermal dengan suhu hidrotermal 100 0 C selama 5 jam dan variasi konsentrasi NaOH. Pada penelitian tersebut diperoleh zeolit A murni dengan kristalinitas sebesar 99,07% pada konsentrasi NaOH 1,67 M. Moises, et al., (2013) juga telah mensintesis zeolit Na-A dari abu ampas tebu dengan metode peleburan pada suhu yang sama dengan penelitian Chang dan Shih yaitu 550 0 C tetapi dengan waktu yang berbeda yaitu 40 menit, dengan variasi rasio