PENERAPAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK SELEKSI TENAGA AKADEMIK Farindika Metandi Program Studi Teknik Informatika Politeknik Negeri Samarinda Email: farindika@polnes.ac.id Abstrak - Manajemen sumber daya pengajar (Calon tenaga akademik) merupakan salah satu unsur terpenting dalam lingkungan pendidikan tinggi. Manajemen sumber daya calon tenaga akademik dapat dikelompokkan menjadi empat kegiatan utama, yaitu perencanaan seleksi calon tenaga akademik baru, penilaian selama masa percobaan, perencanaan pengembangan, dan promosi jabatannya. Proses keputusan seleksi dalam kenyataannya melibatkan beberapa kriteria bersifat kualitatif yang ditentukan oleh pengambil keputusan. Sering kali evaluasi dari proses keputusan-keputusan merupakan masalah yang tidak terstruktur. Suatu penggunaan model keputusan multi kriteria banyak diterapkan untuk proses seleksi. Hal ini disebabkan karena proses seleksi merupakan suatu bentuk evaluasi awal yang harus seobjektif mungkin dan memberikan manfaat dengan mengakomodasi multi atribut untuk tujuan organisasi. Metode AHP memungkinkan pengambil keputusan menyatakan interaksi multi faktor dalam situasi yang komplek dan tidak terstruktur. AHP akan menghasilkan urutan ranking prioritas yang mengindikasikan keseluruhan preferensi untuk masing-masing alternatif keputusan. Hasil perhitungan AHP yang diterapkan ini akan menghasilkan keluaran nilai intensitas prioritas Calon tenaga akademik tertinggi sehingga Calon tenaga akademik yang memiliki nilai tertinggi layak untuk diterima. Kata Kunci : Tenaga Akademik, Metode AHP, Keputusan 1. PENDAHULUAN Manajemen sumber daya pengajar (Calon tenaga akademik) merupakan salah satu unsur terpenting dalam lingkungan pendidikan tinggi. Manajemen sumber daya calon tenaga akademik dapat dikelompokkan menjadi empat kegiatan utama, yaitu perencanaan seleksi calon tenaga akademik baru, penilaian selama masa percobaan, perencanaan pengembangan, dan promosi jabatannya. Keempat kegiatan tersebut perlu dilakukan secara simultan dan berkesinambungan agar dapat diperoleh manfaat bersama untuk dua sisi, yaitu para calon tenaga akademik sebagai pribadi dan lembaga pendidikan tinggi sebagai suatu sistem pendidikan. Sebagai pribadi, kegiatan-kegiatan tersebut akan memacu para calon tenaga akademik dalam meningkatkan profesionalismenya sebagai tenaga akademik (peningkatan golongan dan jabatan akademik). Efek dari profesionalisme tersebut akan berimbas pada peningkatan status akreditasi Jurusan. Proses keputusan seleksi dalam kenyataannya melibatkan beberapa kriteria bersifat kualitatif yang ditentukan oleh pengambil keputusan. Sering kali evaluasi dari proses keputusan-keputusan merupakan masalah yang tidak terstruktur. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut : 1. Kurangnya informasi yang lengkap mengenai kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja pada suatu lingkungan yang bersifat dinamis dan tidak pasti. 2. Sedikitnya ketersediaan data kuantitatif yang disebabkan karena sistem tersebut masih dalam tahap perkembangan dan pembelajaran. 3. Adanya multi atribut yang terlibat dalam keputusan evaluasi, dimana seringkali saling konflik dan kadang-kadang saling melengkapi. Yang lebih menyulitkan, atribut yang demikian tersebut tidak dapat dinyatakan dalam satuan unit pengukuran yang umum dan beberapa atribut merefleksikan aspek-aspek psikologis seperti pertimbangan-pertimbangan kualitatif. Suatu penggunaan model keputusan multi kriteria banyak diterapkan untuk proses seleksi. Hal ini disebabkan karena proses seleksi merupakan suatu bentuk evaluasi awal yang harus seobjektif mungkin dan memberikan manfaat dengan mengakomodasi multi atribut untuk tujuan organisasi. Dengan kata lain, proses seleksi yang diikuti oleh penilaian personil selama masa uji coba, pengembangan personil dan perencanaan karir harus memberikan manfaat dengan menempatkan orang yang tepat, pada tempat yang tepat, pada pekerjaan yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan biaya yang tepat. Masalah model keputusan multi kriteria mempunyai beberapa elemen khusus sebagai berikut: • Pernyataan dari masalah