Jurnal Kedokteran dan Kesehatan: Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya 22 Volume 7, No. 1, 2020/DOI :10.32539/JKK.V7I1.7761 p-ISSN 2406-7431; e-ISSN 2614-0411 Isolasi dan Identifikasi Spesies Dermatofita Penyebab Tinea Kruris di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer Inda Astri Aryani, Fifa Argentina, Sarah Diba, Hari Darmawan, Grady Garfendo Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, Palembang dedek_23@yahoo.com Received 21 Mei 2019, accepted 12 Januari 2020 Abstrak Dermatofita merupakan kelompok jamur yang mampu menginvasi keratin (kulit, kuku, rambut). Dermatofitosis di pangkal paha, genitalia, pubis, perineum, dan perianal disebut tinea kruris. Diagnosis ditegakkan berdasarkan klinis dan diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis dan biakan. Isolasi spesies jamur dilakukan dengan agar dekstrosa Saboraud dan identifikasi dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik menggunakan lactophenol cotton blue. Penelitian menggunakan metode observasional deskriptif dengan rancangan potong lintang dilakukan pada pasien tinea kruris di pusat kesehatan primer Palembangpada 60 subjek penelitian yang termasuk kriteria inklusi. Berdasarkan hasil biakan, ditemukan 25 biakan jamur positif. Insidensi terbanyak pada usia kisaran 15-24 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Sebagian besar pasien memiliki riwayat higienitas kurang baik dan tidak memiliki hewan peliharaan. Jamur Tricophyton rubrum diisolasi dari sebagian besar biakan (56%). Kata kunci:tinea kruris, spesies dermatofita, biakan jamur Abstract Dermatophyte are a group of fungi with the ability to invade keratin (skin, nail, hair). Dermatophytosis in inguinal, genital, pubic, perineum and perianal area was recognized as tinea cruris. Diagnosis were established based on by clinical finding and supported by microscopic examination and culture isolation. Fungal species isolation wasdone in Saboraud dextrose agar and microscopic examination using lactophenol cotton blue was utilized for identification. Observational descriptive study with cross-sectional design was carried out on tinea cruris patients at primary health care centers in Palembang. Sixty samples were obtained which fulfilled inclusion criteria. Based on culture results, researchers found 25 positive fungal culture. Highest incidence was found in age range 15-24 years old with male predominance. Most patients have relatively poor hygiene and no history of pets. Tricophyton rubrum was isolated from most cultures (56%). Keywords: tinea cruris, dermatophyte species, fungal culture 1. Pendahuluan Dermatofitosis disebabkan tiga kelompok besar Trychophyton, Microsporum dan Epidermophyton. Dermatofitosis pada pangkal paha, genitalia, pubis, perineum, dan perianal disebut tinea kruris. 1,2 Tinea kruris merupakan infeksi kulit yang banyak ditemukan di daerah tropis, pada semua lapisan masyarakat, baik di perdesaan maupun perkotaan. Meskipun penyakit ini tidak fatal, namun bersifat kronik dan sering rekuren sehingga kualitas hidup menurun. 1,3 Lesi tinea kruris dapat meluas hingga ke bokong, dan perut bagian bawah. Berdasarjalur transmisi, spesies dermatofita dibagi menjadi tiga kelompok yaitu antropofilik, zoofilik, dan geofilik. Jamur zoofilik dan geofilik cenderung menyebabkan klinis inflamasi berat sedang jamur antropofilik menimbulkan reaksi lebih ringan. 3 Penegakan diagnosis tinea kruris dilakukan secara klinis dan diperkuat oleh pemeriksaan mikroskopis dan biakan. Pemeriksaan dengan larutan kalium hidroksida