Jurnal REKAYASA DAN MANAJEMEN AGROINDUSTRI ISSN : 2503-488X, Vol. 6. No. 1. Maret 2018 (82-91) 82 KARAKTERISTIK PAPAN PARTIKEL KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) PADA VARIASI KONSENTRASI PEREKAT POLYVINYL ACETATE I Gusti Made Teddy Pradana¹, Bambang Admadi Harsojuwono², Amna Hartiati² ¹Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Unud ²Dosen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Unud Kampus Bukit Jimbaran, Badung, Bali E-mail: kontak@teddypradana.com 1 E-mail koresponden: bambang.admadi@unud.ac.id 2 ABSTRACT The aims of this study were to know the characteristic of particle board cocoa-pod husk on variation of polyvinyl acetate (PVAc) adhesive concentration, and to have the best concentration polyvinyl acetate adhesive in particle board from cocoa-pod husk. The experiments in this study used a single factor with regression analysis. The factors are the concentration of polyvinyl acetate adhesive, that is 35%, 37.5%, 40%, 42.5%, 45% dan 47.5%. The fisis test results showed that concentration of polyvinyl acetate adhesive had upward trend on density and downward trend on moisture content, water absorption, and thickness swelling. The mechanical test result showed that concentration of polyvinyl acetate adhesive on concentration 47.5% had the best treatment. The best treatmest of particle board from cocoa-pod husk is made by used 47.5% polyvinyl acetate adhesive with density 0.48 g/cm 3 , moisture content 8,64%, water absorption 155.85%, thickness swelling 13.34% in fisis test and with MOE 44.07 kg/cm 2 , MOR 1.38 kg/cm 2 and compressive strength parallel 2.36 kg/cm 2 in mechanical test. Key words: particle board, cocoa-pod husk, polyvinyl acetate PENDAHULUAN Tanaman kakao adalah tanaman perkebunan yang populer ditanam di Indonesia. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (2015), pada tahun 2014, Indonesia memiliki total luasan perkebunan kakao seluas 1.727.437 ha yang terdiri dari perkebunan rakyat, kepemilikan perusahaan swasta dan pemerintah. Dengan luasan perkebunan kakao tersebut Indonesia mampu memproduksi kakao sebanyak 728.414 ton per tahun atau sekitar 2 ton per hektar per tahun. Hal ini dikuatkan dengan pusat data dan sistem informasi pertanian, Kementerian Pertanian (2016) mengenai outlook kakao yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ke-2 di dunia setelah Pantai Gading. Areal perkebunan yang semakin luas akan menghasilkan produksi kakao yang semakin banyak. Hal ini juga akan mengakibatkan jumlah limbah kulit buah kakao semakin tinggi. Secara fisis, berat kulit kakao bekisar 70-75% dari keseluruhan berat buah kakao atau setiap ton buah kakao akan menghasilkan 700 kg sampai dengan 750 kg kulit buah kakao (Cruz et al. 2012). Kulit buah kakao mengandung bahan berserat tinggi (40%) dengan kadar protein rendah 7-10 persen (Smith and Adegbola, 1977 dalam Laconi, 1998). Serat pada kulit buah kakao mengandung komponen utama berupa lignin, selulosa dan hemiselulosa (Anas, 2011 dalam Purnamawati dan Utami, 2014). Menurut Daud et al. (2013), kulit buah kakao mengandung 74% holoselulosa, 35,4% selulosa, 37% hemiselulosa dan 14,7% lignin. Pemanfaatan limbah kulit buah kakao masih sangat terbatas untuk pakan ternak dan pupuk. Sebagai pakan ternak, kulit buah kakao memerlukan proses awalan fermentasi untuk meningkatkan kandungan protein menjadi 15-17% dan serta menurunkan serat kasar 10-11% (Guntoro et al., 2002).