JFT. No.1, Vol. 6, Juni 2019 47 | JFT PENGUKURAN RADIOAKTIVITAS GAMMA PADA SAMPEL TANAH DI DAERAH KABUPATEN MAMUJU Dzulqadri Imran 1 , Iswadi 1 , Sri Zelviani 1 , dan Elisabeth Supriyatni 2 1 Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar 2 Pusat Sains dan Teknologi Akselerator – Badan Tenaga Nuklir Nasional Email: dzulqadri.physics@gmail.com, wadi.phys.uin@gmail.com, sri.zelviani@uin-alauddin.ac.id Abstract: The research aims to determine the level of radioactivity in the district of Mamuju and compare it with other land activities. and prove previous research on land activity in Mamuju is quite high. Measurements are done using the method of counting and identifying. That is identifying the radionuclides contained in the sample according to the Uranium and Thorium series. The tools used are LBC (Low Background Counter) and Gamma spectrometry. The results showed that: land activity in all samples has exceeded the limits established by PERKA BAPETEN and IAEA (International of Atomic Agency). The highest radioactivity results are found in the Takandeang region. And on all three samples showed the results of a very significant natural radionulida activity on vulnerable concentrations of activity in European countries. Keywords: radioactivity, land, regency of Mamuju 1. PENDAHULUAN Radiasi pengion berada dimanapun di dunia dan hampir tidak ada satupun yang tidak mengandung unsur radioaktif. Telah diketahui bahwa setiap hari manusia selalu terpapar radiasi alam baik radiasi kosmik, radiasi terestrial yang terutama dari radionuklida primordial di kerak bumi yaitu uranium dan throrium beserta luruhannya. Naturally Occuring Radioactive Material (NORM) merupakan sumber radiasi alam yang terjadinya bersamaan dengan terciptanya alam semesta. NORM akan ditemukan disemua tempat di dunia dengan tingkat konsentrasi yang berbeda-beda. Sumber radiasi NORM dipengaruhi oleh keberadaan batuan dari deret Uranium ataupun deret Thorium di suatu tempat. Karena berasal dari alam, keberadaan sumber radiasi ini tidak dapat dihindari, namun dapat dikendalikan potensi bahayanya. IAEA menganggap fenomona alam tersebut sebagai sumber radiasi existing (exixting exposure). Dari peta laju dosis radiasi lingkungan yang dibuat berdasarkan hasil survei yang dilakukan Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radasi (PTKMR), BATAN sampai tahun 2010, diketahui bahwa di Indonesia terdapat beberapa daerah yang mempunyai radiasi latar alam yang lebih tinggi dari daerah lain, diantaranya adalah Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat. Pengukuran yang dilakukan antara lain pengukuran eksternal terhadap tingkat paparan radiasi gamma. Tingkat paparan