Prosiding SNaPP2012: Sosial, Ekonomi, dan Humaniora ISSN 2089-3590 277 EKSISTENSIALISME MOHAMMAD IQBAL DAN SOREN AABYE KIERKEGAARD (DIALOG PEMIKIRAN TIMUR DAN BARAT) 1 Rodlyah Khuzai, 2 Syarah Siti Burdah, 3 Nilu Yuspasari, 4 Maftuh Supriadi 1,2,3,4 Fakultas Dakwah, Universitas Islam Bandung, Jl.Rangga Gading No.8 Bandung 40116 e-mail: 1 mba_diah@yahoo.com Abstrak. Pemiskinan dimensi filosofis sedang terjadi di negeri ini. Ketika ruang publik direduksi menjadi pasar, ketika tekanan orientasi kebanyakan orang pada hasil, maka ekonomi menjadi perhatian utama, kehidupan bukan lagi diorientasikan untuk mengabdikan diri, menjamin kebebasan setiap individu serta keadilan. Mohammad Iqbal dan Soren Aabye Kierkegaard menawarkan solusi cerdas dalam mengatasi persoalan tersebut melalui pemikiran-pemikirannya, keduanya adalah dua tokoh besar pemikir eksistensialis yang berpengaruh di Barat maupun Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) latar belakang sosial-politik dan intelektual lingkungan dan masyarakat banyak mempengaruhi konstruksi eksistensialisme Mohammad Iqbal adapun Soren Aabye Kierkegaard lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi internal keluarga dan kehidupannya; (2) konstruksi eksistensialisme Mohammad Iqbal adalah takdir, ijtihad, dan konsep diri, sedangkan Soren Aabye Kierkegaard adalah estetika, etika, dan religius; (3) persamaan konstruksi eksistensialisme Mohammad Iqbal dan Soren Aabye Kierkegaard terletak pada kesamaannya melakukan kritik terhadap pemikiran yang menafikan individualitas manusia, Iqbal melakukan kritik terhadap idealisme Plato, sedangkan Kierkegaard melakukan kritik terhadap idealisme Hegel, kesamaan lainnya yaitu menekankan pentingnya individualitas manusia yang menunjukkan eksistensi manusia yang sejati, mendasarkan pemikiran eksistesialisme mereka dengan Eksistensi (keberadaan dan kehadiran) Tuhan; (4) relevansi eksistensialisme kedua tokoh ini dengan studi Islam adalah menyadarkan akan jati diri manusia yang sangat mulia dan perlu dipertahankan sehingga tidak terjebak pada materialisme dan pemiskinan moral. Kata kunci: Eksistensialisme dan Perubahan 1. Pendahuluan Pemiskinan dimensi filosofis sedang terjadi di negeri ini. Ketika ruang publik direduksi menjadi pasar, tekanan orientasi kebanyakan orang pada hasil, maka ekonomi menjadi perhatian utama. Kehidupan bukan lagi diisi dalam rangka mengabdikan diri dengan menjamin kebebasan individu dan kesejahteraan bersama serta keadilan, tetapi dipenuhi dengan nafsu ambisi, egoistik, dan individualistik, Zubaidi (2007:10). Bercermin pada kondisi sosial bangsa Indonesia yang masih carut marut ini, upaya penggunaan kajian filsafat menjadi langkah signifikan untuk dilakukan agar menggugah kembali kejernihan rasionalitas, kebeningan jiwa, dan kesadaran nurani. Orang yang berfilsafat, adalah orang yang berfikir sambil bertangung jawab, sehingga tampak adanya hubungan antara kebebasan berfikir dan etika yang melandasi kebebasan berfikir itu.(Fuad Hasan, 1992:5). Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang lahir karena protes terhadap filsafat tradisional dan masyarakat modern, seperti pandangan Plato. Dalam sistem tersebut jiwa individual hilang dalam universal yang abstrak. Ia memberontak terhadap alam yang impersonal, serta gerakan massa. Masyarakat industri cenderung menundukkan manusia menjadi alat, komputer atau objek, saintisme hanya memandang manusia sebagai bagian dari proses fisik (Edward Paul, Vol. III, 1967: 148; N. S.J. Drirjakara, 1989; 63-64).