Jurnal Gizi Klinik Indonesia, Vol. 10, No. 3, Januari 2014  139 Shelly Festilia Agusanty, dkk: Faktor risiko sarapan pagi dan makanan selingan terhadap kejadian overweight Faktor risiko sarapan pagi dan makanan selingan terhadap kejadian overweight pada remaja sekolah menengah atas Breakfast and snacking as risk factors of overweight in senior high school Shelly Festilia Agusanty 1 , Istiti Kandarina 2 , I Made Alit Gunawan 3 ABSTRACT Background: Overweight or obesity during childhood and adolescence are important risk factors for the presence of adult overweight or obesity. Eating habits in childhood and adolescence inuence their healthy condition. Prospective studies of breakfast habits and nutritional status suggest an inverse (protective) association between the frequency of eating breakfast and the risk for overweight and obesity and relationships between no breakfast and increasing body weight. Objective: To examine risk factor of breakfast and snacking related to overweight status in adolescents. Method: This was observational study with case control design. First step of study was screening to have prevalence of overweight in adolescents. The second step was case control study participated by 100 overweight adolescents and 100 normal weight adolescents in senior high school matched in sex, age and school. Data collected were weight and height measurements for nutritional status, respondent identity and characteristic, breakfast dan snacking habits and physical activity. Statistical analysis used Chi-Square statistics and multivariable logistic regression analysis. Results: Prevalence of overweight in adolescents were 16,8%. There were signicant association between breakfast with overweight (p<0,05; OR=3.1; 95% CI=1.4-7.47). There was no association between snacking and overweight, but there were signicant association between frequency of snacking (OR=1.9; 95% CI=1.05-3.50), energy of snacking (OR=2.1; 95% CI=1.13-4.02), and carbohydrate of snacking (OR=4.5; 95% CI=1.94-11.50) with overweight. In multivariate model, breakfast habits, carbohydrate of snacking and physical activity had signicant association with overweight. Conclusion: Skipping breakfast was a risk factor for overweight in adolescence. Adolescents who had snacking more than twice a day were having greater risk factor for overweight. KEY WORDS: breakfast, snacking, overweight ABSTRAK Latar belakang: Overweight dan obesitas pada masa anak dan remaja mempengaruhi kejadian overweight dan obesitas pada masa dewasa. Pola dan perilaku makan pada anak dan remaja mempengaruhi kesehatannya. Beberapa penelitian tentang hubungan antara perilaku sarapan dan status gizi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya frekuensi sarapan pagi dapat menurunkan risiko overweight dan obesitas serta ada hubungan antara tidak sarapan pagi dengan meningkatnya berat badan. Tujuan: Mengetahui faktor risiko sarapan pagi dan makanan selingan terhadap kejadian overweight pada remaja SMA. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Tahap awal dilakukan skrining untuk mengetahui prevalensi overweight pada remaja. Jumlah subjek pada kelompok kasus sebanyak 100 remaja SMA yang overweight dan kontrol sebanyak 100 remaja SMA yang tidak overweight dengan jenis kelamin, umur, dan asal sekolah yang sama. Data yang dikumpulkan berupa karakteristik subjek, berat badan dan tinggi badan untuk mengukur status gizi, pola konsumsi sarapan pagi dan makanan selingan serta aktivitas sik. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan uji regresi logistik. Hasil: Prevalensi overweight kelompok remaja pada penelitian ini sebesar 16,8%. Sarapan pagi dan kejadian overweight menunjukkan hubungan bermakna (p<0,05; OR=3,1; 95% CI=1,4-7,47). Sebaliknya, makanan selingan tidak berhubungan dengan kejadian overweight, tetapi ada hubungan antara frekuensi makanan selingan (OR=1,9; 95% CI=1,05-3,50), energi makanan selingan (OR=2,1; 95% CI=1,13-4,02), dan karbohidrat makanan selingan (OR=4,5; 95% CI=1,94-11,50) dengan kejadian overweight. Analisis multivariat menunjukkan bahwa sarapan pagi, karbohidrat makanan selingan, dan aktivitas merupakan variabel yang berhubungan dengan kejadian overweight. Simpulan: Remaja yang tidak rutin sarapan pagi berisiko menjadi overweight dibandingkan remaja yang rutin sarapan pagi. Remaja yang mengonsumsi makanan selingan lebih dari dua kali dalam sehari berisiko menjadi overweight dibandingkan remaja yang mengonsumsi makanan selingan dua kali atau kurang dalam sehari. KATA KUNCI: sarapan pagi, makanan selingan, overweight 1 Korespondensi: Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Pontianak, Jl. 28 Oktober Siantan Hulu Pontianak, Kalimantan Barat, e-mail: shellymahira@yahoo.co.id 2 Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281, e-mail: ikandarina@yahoo.com 3 Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden Gamping, Sleman, Yogyakarta Jurnal Gizi Klinik Indonesia Volume 10 Halaman 139-149 No. 03 Januari  2014