Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 1, 2019 11 Peran Elit Desa Dalam Pengembangan Wellness Tourism Di Desa Adat Bindu, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abiansemal, Kebupaten Badung Ni Wayan Gita Sadhana Savitri a, 1 ,I Nyoman Sukma Arida a, 2 1 gitasadhana07@gmail.com, 2 sukma_arida@unud.ac.id a Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata,Universitas Udayana, Jl. Dr. R. Goris No 7, Denpasar, Bali 80232 Indonesia Abstract Bindu Village is located at Badung district, which has potency to develop the wellness tourism. Development wellness tourism at Bindu village involves the elite people. The purpose of this study was to identify tourist attractions and the role of elite people in developing wellness tourism at Bindu village. Data collection techniques conducted in this study are observation techniques, interview techniques and documentary techniques. The determination technique of informant uses the purposive sampling technique. Data analysis technique used is qualitative data analysis technique. The results of the discussion that can be concluded is wellness tourism activities by doing healer activities, purification and therapy. Bindu Village has tourism potency such as the natural potential, the cultural potential and the artificial potential. The role of elite people in the development of wellness tourism in Bindu village is carried out by developing those potencies, building tourism facilities and promotions. Keywords: role, elite people , wellness tourism I. PENDAHULUAN Pengembangan pariwisata di suatu daerah harus terencana dan tersusun secara maksimal agar potensi yang dimiliki dapat dikembangkan secara optimal. Dalam mengembangkan suatu daerah menjadi sebuah destinasi pariwisata perlu melibatkan berbagai pelaku dalam proses pembangunan pariwisata. Salah satu pelaku yang mempunyai peran penting dalam suatu wilayah ialah elit desa. Dalam suatu daerah yang memiliki potensi pariwisata maka adanya elit desa menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan pariwisata karena elit desa mempunyai kekuasaan dalam menyusun pengembangan pariwisata secara terencana dan terorganisir. Pembangunan pariwisata yang tersusun dan terencana secara baik akan memberikan manfaat yang optimal. Pembangunan pariwisata yang memperhatikan daya dukung dan target pasar dari destinasi pariwisata penting untuk dilakukan. Pembangunan tersebut mengarah pada pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya akan memberikan manfaat kepada para pelaku yang terlibat namun juga memberikan kepuasan bagi wisatawan. Salah satu gaya hidup wisatawan yang perlu diperhatikan yakni kesehatan dan relaksasi. Dengan gaya hidup yang sehat dan mendapatkan ketenangan maka akan memberikan kebahagiaan yang lebih baik. Hal tersebut membawa dampak yang positif terhadap pengembangan wellness tourism di Bali. Wellness tourism merupakan sebuah produk pariwisata berupa jasa yang dapat dikembangkan atau dikreasikan ragamnya sesuai dengan kondisi sebuah destinasi baik dari sisi sosial maupun lingkungan (Kaspar dalam Mueller dan Kaufmann, 2007). Pengembangan wellness tourism di Bali berhubungan erat dengan kebudayaan Bali yang didasarkan pada ajaran Agama Hindu yang didalamnya terdapat keseimbangan antara tubuh dan jiwa. Desa Adat Bindu menjadi salah satu desa di Bali yang mulai mengembangkan wellness tourism. Kegiatan yang dilakukan yakni dengan melakukan pengobatan herbal menggunakan tumbuh-tumbuhan maupun rempah-rempah tradisional yang terdapat di Desa Adat Bindu. Kegiatan wellness tourism berkaitan erat dengan kegiatan spiritual yakni dengan dilakukannya healer, pembersihan diri dan terapi guna memberikan ketenangan kepada wisatawan karena mulai dari adanya ketenangan jiwa maka terciptalah kesehatan jasmani. Desa Adat Bindu yang hanya mempunyai satu pintu masuk menjadi suatu keuntungan dari Desa Adat Bindu untuk dikembangkan karena wisatawan akan memperoleh ketenangan saat berada di dalam desa. Selain itu, pengembangan wellness