142 Pola Asuh Orang Tua Mempengaruhi Kemampuan Self Care Pada Anak Autisme I Gusti Ayu Putu Satya Laksmi 1* , Ni Made Purnamaningsih 2 , Ni Luh Putu Devhy 3 1,2 Program Studi Sarjana Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali, 3 Program Studi Rekam Medis Informasi Kesehatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali * Email: ayuputusatya@yahoo.com Abstract Background: Autism is one of the serious development disorders of a child, which causes problem in the ability of daily life, one of which is self care. The role of parents, especially of parenting parents is very influential for self care ability in autistic children.Aims of this study is to analize corelation betwen parenting parents to self care ability in autism. Methods: The study design uses Descriptive Correlation, that is a correlation between two variables is parenting and ability self care in autistic children . With a Cross-Sectional approach. The amount of samples used was 47respondents, using the Purposive sampling technique and collecting data using The Pediatric Evaluation of Disability Inventory with the test results using the contingency coefficient. That tested whether there is a correlation between two variables is parenting and ability self care in autistic children. Results: The results of study found the majority of parents implementing democratic parenting as many as 25 people (53,2%) and 24 children (51,1%) with the ability to self care quite capable. The test results using the contingency coefficient obtained of p value of 0,000 (p<0,05) which means that these results indicate a correlation of parenting with ability self care in autistic children, a correlation strength value of 0,659 (strong power). Conclusion: The researcher suggests that parents provide many positive activities in terms of eating and drinking, dreesing, personal hygiene, and toileting so that children can independently do self care. Keywords : ability self care, autistic child, parenting PENDAHULUAN Anak merupakan individu yang masih bergantung pada orang lain dan lingkungan yang mampu memfasilitasi kebutuhan dasar serta untuk belajar mandiri, lingkungan yang dimaksud adalah orang tua atau keluarga dari anak. Setiap orang tua akan mengharapkan anaknya tumbuh dan berkembang secara sehat sesuai dengan tahap dan tugas tumbuh kembangnya (Susumaningrum, 2018). Kenyataan ada beberapa diantaranya memiliki anak yang mengalami autisme (YPAC, 2013). Anak autisme mengalami beberapa gangguan, dengan tiga gangguan utama yaitu mengalami gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku (Wiyani, 2014). Angka kejadian anak yang teridentifikasi autisme pada tahun 2017 di Amerika Serikat yaitu sekitar 1 dari 68 anak atau 1,5% dari anak usia 8 tahun (Centers for Disease Control and Prevention). Autisme lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan yaitu 4:1 dan terjadi pada 15- 20 dari 10.000 anak-anak (Nixon & Mariyanti, 2018). Data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan jumlah anak autisme di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 10.785 anak di Sekolah Luar Biasa (SLB). Jumlah anak autisme di Provinsi Bali mengalami peningkatan rata-rata 5,8% setiap tahunnya. Data dari Dinas Pendidikan Provinsi Bali tahun 2018/2019 jumlah anak autisme yang sudah bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) yaitu 154 orang, dimana kota Denpasar menempati urutan pertama dengan jumlah 125 anak. Angka kejadian di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar pada bulan Januari 2020 terdapat 53 anak