B I O D I V E R S I T A S ISSN: 1412-033X
Volume 8, Nomor 1 Januari 2007
Halaman: 23-26
♥ Alamat Korespondensi:
Jl. Ir. H. Juanda 18 Bogor 16002
Telp.: +62-251-324006, Fax. +62-251-325854
Email : widadomon@yahoo.com
Aktivitas Fosfatase dan Pelarutan Kalsium Fosfat oleh beberapa
Bakteri Pelarut Fosfat
Phosphatase Activity and Solubilization of Calcium phosphate by Phosphate
Solubilizing Bacteria
SULIASIH
♥
, RAHMAT
Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor 16002
Diterima: 14 September 2006. Disetujui: 29 Desember 2006.
ABSTRACT
A study was undertaken to investigate the ability of phosphate solubilizing bacteria to solubilize insoluble phosphate. Seventeenth
phosphate solubilizing bacteria were isolated from soil in Wamena, Papua. These organism was identified as Bacillus sp, Bacillus
pantothenticus, Bacillus megaterium, flavobacterium sp, Flavobacterium breve, Klebsiella aerogenes , Chromobacterium lividum and
Pseudomonas sp. Four isolates (B. pantothenticus, K. Aerogenes, B megaterium and C. lividum) are choosen for further study. B
pantothenticus Solubilizer greatest amounth of tricalsium phosphate indicated by increasing of orthophosphate about 12.39 mg/l in liquid
medium. Four isolates also produces phosphatase and the higest phosphatase activity is from B. pantothenticus about 1.947 ug p-
nitrophenol/g/h.
© 2007 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Key words : phosphate solubilizing bacteria
PENDAHULUAN
Fosfor (P) merupakan salah satu unsur utama yang
diperlukan tanaman dan memegang peranan penting dalam
proses metabolisme. Dalam tanah dijumpai fosfor organik
dan anorganik, keduanya merupakan sumber penting bagi
tanaman . Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk
H
2
PO
4
-
, HPO
4
=
dan PO
4
=
. Pada umunya bentuk H
2
PO
4
-
lebih tersedia bagi tanaman daripada HPO
4
=
dan PO
4
=
.
Ketersediaan fosfor anorganik sangat ditentukan oleh pH
tanah, jumlah dan tingkat dekomposisi bahan organik serta
kegiatan jasad mikro dalam tanah (Lal, 2002).
Ketersediaan P dalam tanah pada umumnya rendah.
Hal ini disebabkan P terikat menjadi Fe-fosfat dan Al-fosfat
pada tanah masam atau Ca
3
(PO
4
)
2.
pada tanah basa.
Tanaman tidak dapat menyerap P dalam bentuk terikat dan
harus diubah menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman.
Mikroba tanah berperan dalam beberapa aktivitas dalam
tanah seperti pelarutan P terikat oleh sekresi asam, dan
mineralisasi komponen fosfat organik dengan
mengubahnya menjadi bentuk anorganik (Cunningham and
Kuiack, 1992).
Beberapa bakteri tanah seperti bakteri pelarut fosfat
mempunyai kemampuan untuk melarutkan P organik
menjadi bentuk fosfat terlarut yang tersedia bagi tanaman.
Efek pelarutan umumnya disebabkan oleh adanya produksi
asam organik seperti asam asetat, asam format, asam
laktat, asam oksalat, asam malat dan asam sitrat yang
dihasilkan oleh mikroba tersebut. Mikroba tersebut juga
memproduksi asam amino, vitamin dan growth promoting
substance seperti IAA dan asam giberelin yang dapat
meningkatkan pertumbuhan tanaman (Richardson, 2001;
Gyaneshwar, et al., 2002; Ponmugaran, 2006).
Mineralisasi fosfat organik juga melibatkan peran
mikroba tanah melalui produksi enzim fosfatase seperti
fosfatase asam dan basa. Beberapa enzim fosfatase
seperti fosfomonoesterase, fosfodiesterase,
trifosfomonoesterase dan fosfoamidase pada umumnya
terdapat didalam tanah. Enzim-enzim tersebut
bertanggung jawab pada prosses hidrolisis P organik
menjadi fosfat anorganik (H
2
PO
4
-
, HPO
4
=
) yang tersedia
bagi tanaman. (Pang, 1986; Mearyard, 1999; Lal, 2002).
Untuk menentukan aktivitas enzim fosfomonoesterase
(PME), dapat digunakan berbagai fosfat yang dihasilkan
dari mineralisasi esterfosfat organik alami atau komponen
organik buatan seperti fenilfosfat dan p-nitrofenilfosfat
(p-NPP) sebagai substrat. Penggunaan fenil fosfat dan
p-nitrofenil fosfat (p-NPP) sebagai substrat secara potensial
akan menginduksi produksi enzim fosfomonoesterase serta
mengindikasikan kemampuan hidrolisis bentuk P organik
oleh enzim fosfomonoesterase (Tabatabai and Premner,
1965).
Pengukuran aktivitas PME dapat dilakukan dari tanah
dan kultur murni. Dalam percobaan ini akan dilakukan
pengukuran PME dari kultur murni yang bertujuan untuk
memilih biak dengan PME yang tinggi dan dapat dipilih
sebagai biak yang potensial yang dapat digunakan sebagai
pupuk hayati.