SCRIPTA BIOLOGICA | VOLUME 4 | NOMER 1 | MARET 2017 | 15–19 | HTTP://DOI.ORG/10.20884/1.SB.2017.4.1.380 | http://scri.bio.unsoed.ac.id 15 KEANEKARAGAMAN KULTIVAR SEMANGKA [Citrullus lanatus (THUNB.) MATSUM. & NAKAI] DI SENTRA SEMANGKA NUSAWUNGU CILACAP UTARI DWI KUSUMASTUTI, SUKARSA, PUDJI WIDODO Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Jalan dr. Suparno 63 Purwokerto 53122 ABSTRACT Watermelon [Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai] is a plant of Cucurbitaceae family which is include in an annual plant. In Indonesia, watermelon has diversity in its cultivar as can be seen from the stem, leaf, flower, and fruit morphology. This research is aimed to find out the diversity and the similarity relationship of watermelon cultivar in Nusawungu, Cilacap. A survey method was used in this research by taking the samples with a random sampling technique (purposive sampling). This research parameter consisted of stem, leaf, flower, and fruit morphology of each watermelon cultivar. Data of watermelon cultivar morphology were analyzed descriptively and then analyzed based on the similarity relationship with UPGMA method (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) using the MEGA 5.05 software. The result of this research showed that there were five watermelon cultivars namely C. lanatus ‘Farmers Giant’, C. lanatus ‘Nina’, C. lanatus ‘Black Orange’, C. lanatus ‘Torpedo’, and C. lanatus ‘Bintang’. There were two groups of watermelons based on phenetic analysis namely group I consisting of C. lanatus ‘Torpedo’, C. lanatus ‘Black Orange’, and C. lanatus ‘Nina’ cultivars, group II consisting of C. lanatus ‘Bintang’ and C. lanatus ‘Farmers Giant’. The closest similarity was between C. lanatus ‘Farmers Giant’ and C. lanatus ‘Bintang’ cultivars with the dissimilarity index of 0,516. While the most distantly related was between C. lanatus ‘Nina’ and C. lanatus ‘Farmers Giant’ cultivars with the dissimilarity index of 2,338. KEY WORDS: diversity, similarity, morphology, watermelon Penulis korespondensi: UTARI DWI KUSUMASTUTI | email: utaridwik94@gmail.com PENDAHULUAN Semangka [Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai] merupakan tanaman dari famili Cucurbitaceae (labu-labuan) yang bersifat semusim. Buah semangka telah dibudidayakan 4.000 tahun SM sehinggga tidak mengherankan apabila konsumsi buah semangka telah meluas ke semua belahan dunia (Prajnanta, 2003). Tanaman semangka dibudidayakan secara luas oleh masyarakat terutama di dataran rendah, sehingga memberi banyak keuntungan kepada petani dan pengusaha semangka, serta dapat meningkatkan perbaikan tata perekonomian Indonesia, khususnya bidang pertanian (Wijayanto et al., 2012). Indonesia mendapat peluang ekspor semangka sebesar 1.000 ton/tahun, sedangkan permintaan pasar dunia akan semangka mencapai 169.746 ton/tahun (Fadilah, 2012). Perkembangan produksi tanaman semangka di Indonesia tahun 2009 mencapai 474.327 ton, namun pada tahun 2010 produksi semangka hanya mencapai 348.631 ton (Jasmine et al., 2014). Terdapat sekitar 118 genera Citrullus dan 825 spesies dimana setiap spesies memiliki ukuran, rasa, dan bentuk yang berbeda (Dane et al., 2004). Menurut Samadi (1996), kultivar semangka yang cocok dibudidayakan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu semangka lokal (semangka hitam dari Pasuruan, semangka Batu Sengkaling dan semangka Bojonegoro) dan semangka hibrida impor. Kultivar semangka hibrida berbiji contohnya adalah farmers giant, new dragon, south crimson, dan grand baby, sedangkan kultivar semangka hibrida tanpa biji contohnya adalah quality, sky bell, orchid sweet, farmers wonderful, dan fengshan. Beberapa contoh kultivar semangka yang berumur panen kurang dari 60 hari adalah adalah baskara, campina, dynamit, dragon giant, golden, innole, baginda, black sugar, black sumbo, denis, frontier, hitam manis, kemuning, legyta, luna, nirwana, quality, saloka, sembida, dan tamanis (Sobir & Siregar, 2010). Setiap kultivar tersebut memiliki karakter morfologi yang berbeda- beda. Berdasarkan karakter morfologi yang ada, hubungan kemiripannya dapat diketahui dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki oleh masing-masing kultivar dengan menggunakan sejumlah persamaan karakter. Semakin besar persamaan di antara makhluk hidup maka semakin dekat hubungan yang ada, sedangkan semakin sedikit persamaanya akan semakin jauh hubungan kekerabatannya (Rideng, 1982). Semangka tumbuh di tanah yang kaya kandungan bahan organik, subur, gembur, serta memiliki aerasi dan draenase yang baik (Alridiwirsah, 2010). Secara topografi, Kecamatan Nusawungu terletak pada ketinggian antara 0–7 m di atas permukaan laut dan kemiringan 0–2%. Wilayah Kecamatan Nusawungu beriklim tropis dan memiliki temperatur relatif tinggi sehingga pada daerah tersebut banyak ditanami semangka. Berdasarkan uraian tersebut, maka muncul permasalahan yang dapat dikaji yaitu bagaimana keanekaragaman kultivar semangka yang terdapat di sentra semangka Nusawungu Cilacap, serta bagaimana hubungan kemiripan antara kultivar tersebut. Tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan jauh dekatnya hubungan kemiripan antar kultivar semangka yang terdapat di sentra semangka Nusawungu, Cilacap.