JIUBJ Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(3), Oktober 2020, 821-826 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat universitas Batanghari Jambi ISSN 1411-8939 (Online), ISSN 2549-4236 (Print) DOI 10.33087/jiubj.v20i3.1063 821 Pengaruh Terapi Psikoreligious: Dzikir dalam Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Skizofrenia yang Muslim di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau Pratiwi Gasril 1* , Suryani 2 , Heppi Sasmita 3 1 Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Riau 3 Dosen Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran 3 Dosen Poltekes Kemenkes Padang * Correspondence email: pratiwi@umri.ac.id Abstrak. Data American Psychological Association (APA) Tahun 2010 dan Riskesdas 2013 menunjukkan rata-rata penduduk dunia mengalami skizofrenia dan 70% pasien skizofrenia mengalami halusinasi. Salah satu terapi yang direkomendasikan dalam upaya untuk mengontrol halusinasi adalah terapi Psikoreligius:dzikir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi Psikoreligious: dzikir dalam mengontrol halusinasi pada pasien Skizofrenia. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Quasy expriemental yang dilakukan terhadap 20 responden di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Peneliti menggunakan modul dan lembar evaluasi Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terapi psikoreligious: dzikir dalam mengontrol halusinasi pada pasien skizofrenia (p value = 0,000), Hasil penelitian ini dapat dijadikan terapi tambahan dalam mengontrol halusinasi pada pasien dengan halusinasi pendengaran. Kata kunci: Psikoreligious; dzikir; halusinasi; skizofrenia Abstract. Data from the American Psychological Association (APA) in 2010 and Riskesdas 2013 show that on the average world population has schizophrenia and 70% of schizophrenic patients experience hallucinations. One of the recommended therapies in an effort to control hallucinations is psychoreligious therapy: dhikr. The purpose of this study was to determine the effect of psycho-religious therapy: dhikr in controlling hallucinations in schizophrenia patients. The research method used is quantitative with a Quasy expriemental approach carried out on 20 respondents at the Tampan Mental Hospital, Riau Province. Researchers used the Auditory Hallucinations Rating Scale (AHRS) module and evaluation sheet before and after the intervention. The results showed that there was an effect of psychoreligious therapy: dhikr in controlling hallucinations in schizophrenic patients (p value = 0,000). The results of this study can be used as additional therapy in controlling hallucinations in patients with auditory hallucinations. Keywords: Psychoreligious; dhikr; hallucination; schizophrenia PENDAHULUAN Skizofrenia merupakan bentuk gangguan jiwa yang terdapat diseluruh dunia. Skizofrenia adalah penyakit kronis berupa gangguan mental yang serius yang ditandai dengan gangguan dalam proses pemikiran yang mempengaruhi perilaku (Thorson et al, 2008). Sekitar 45% pasien yang dirawat di Rumah sakit jiwa merupakan pasien skizofrenia dan sebagian besar pasien skizofrenia tersebut memerlukan perawatan baik itu rawat inap dan rawat jalan dalam waktu yang lama (Videbeck, 2008). Data American Psychological Association (APA) tahun 2010 menyebutkan bahwa 1% populasi penduduk dunia (rata-rata 0,85%) mengalami Skizofenia (Joys, 2011). Bernard (2010) menjelaskan angka prevelensi skizofrenia didunia adalah 1 per 10.000 orang pertahun. Menurut Rikerdas (2013), angka kejadian skizofrenia mencapai 1.728 orang. Penyebab terjadinya skizofrenia adalah integrasi dari faktor biologis, genetik dan juga psikososial ( Kaplan et al, 2010). Videbeck (2008) juga menyebutkan bahwa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan jiwa adalah faktor yang meliputi faktor genetik, neuroanatomi dan neurokimia (struktur dan fungsi otak) serta imunovirologi, faktor psikologis dan faktor sosial. Tanda dan gejala skizofrenia terdiri dari dua kategori gejala utama yaitu gejala positif dan negatif. Gejala positif skizofrenia meliputi waham, halusinasi, bicara tidak teratur dan kekacauan yang menyeluruh atau prilaku katatonia. Sedangkan gejala negatif skizofrenia meliputi pendataran afektif, alogia (miskin pembicaraan) dan avolisi/kurang prilaku inisiatif diri (Copel, 2007). Salah satu gejala positif yang sering terjadi pada individu yang mengalami skizofrenia adalah halusinasi. Halusinasi adalah gejala yang khas dari skizofrenia yang merupakan pengalaman sensori yang menyimpang atau salah yang dipersepsikan sebagai suatu yang nyata (Kaplan et al, 2010). Halusinasi biasanya disebabkan karena ketidakmampuan pasien dalam menghadapi stresor dan kurangnya kemampuan dalam mengenal dan mengontrol halusinasi. Towsend (2005) menyatakan bahwa halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah yang meliputi salah satu dari