Akhmadi Puguh Raharjo: Simulasi Pengurangan Limpasan Permukaan Menggunakan Sistem Pemanenan Air Hujan Sederhana di Kawasan Penyangga Perkotaan 32 Jurnal Alami (ISSN: 2548-8635), Vol. 3 No. 1, Tahun 2019 SIMULASI PENGURANGAN LIMPASAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN SISTEM PEMANENAN AIR HUJAN SEDERHANA DI KAWASAN PENYANGGA PERKOTAAN SIMULATION OF SURFACE RUNOFF REDUCTION USING SIMPLE RAIN WATER HARVESTING SYSTEM IN URBAN BUFFER AREA Akhmadi Puguh Raharjo Perekayasa Muda pada Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB) - BPPT. Gedung 820 Lantai 1, Komplek Perkantoran PUSPIPTEK, Tangerang Selatan, Banten 15314. e-mail: akhmadi.puguh@gmail.com ABSTRACT Floods are the most common disaster in Indonesia. Among various flood types, pluvial flood is the least studied one. Simple rain water harvesting system using cistern/barrel and water tank possess the potential to reduce runoff from roofs and help alleviate the severity of pluvial flooding. The purpose of this study was to simulate the application of simple rain water harvesting in reducing surface runoff from roof surfaces in the study area within the sub Basin of Pesanggrahan. Among all the data that need to be collected were the number of houses and area of roof cover in the study area, as well as 10 years rainfall data. Number of houses per block were collected during a field survey while the estimation of roof area was conducted using a web-based software, i-Tree Canopy. From this simulation, scenario 1 (800-liter water drums), has the potential to reduce surface runoff from the roofs within the range of 5.12 to 7.59% (2-year Return Period/RP) and between 2.66 to 3.95% (100-year RP). Meanwhile scenario 2 (2000-liter water tank) has the potential for surface runoff reduction which ranges between 12.79 to 18.96% (2-year RP) and between 6.66 to 9.87% (100-year RP). On the other hand, the potential to delay the initial surface runoff time using scenario 1 ranged from 3.1 to 4.6 minutes (2-year RP) and between 1.6 to 2.4 minutes (100-year RP). Meanwhile scenario 2 has a potential to delay the initial surface runoff time from 7.7 to 11.4 minutes (2-year RP) and between 4.0 to 5.9 minutes (100-year RP). Keywords: green infrastructure, surface runoff, land use, pluvial flood, rain water harvesting. ABSTRAK Banjir adalah bencana paling umum di Indonesia. Di antara berbagai jenis banjir, banjir pluvial adalah yang paling sedikit dipelajari. Sistem pemanenan air hujan sederhana menggunakan drum dan tangki air memiliki potensi untuk mengurangi limpasan dari atap dan membantu mengurangi keparahan banjir pluvial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensimulasikan penerapan pemanenan air hujan sederhana dalam mengurangi limpasan permukaan dari permukaan atap di dalam wilayah studi yang terletak di dalam DAS Pesanggrahan. Di antara semua data yang perlu dikumpulkan adalah jumlah rumah dan luas tutupan atap di wilayah studi, serta data curah hujan (CH) selama 10 tahun. Jumlah rumah per blok dikumpulkan pada survei lapangan, sementara estimasi luas atap dilakukan menggunakan perangkat lunak berbasis web, i-Tree Canopy. Dari kajian ini diketahui bahwa skenario 1 (drum air 800 liter) memiliki potensi pengurangan limpasan permukaan dari atap yang berkisar antara 5,12 - 7,59% (Periode Ulang/PU 2 Tahun) dan antara 2,66 - 3,95% (PU 100 Tahun). Sementara itu skenario 2 (tangki air 2000 liter) memiliki potensi pengurangan limpasan permukaan yang berkisar antara 12,79 - 18,96% (PU 2 Tahun) dan antara 6,66 - 9,87% (PU 100 Tahun). Di sisi lain, potensi penundaan waktu awal limpasan permukaan menggunakan skenario 1 berkisar antara 3,1 - 4,6 menit (PU 2 Tahun) dan antara 1,6 - 2,4 menit (PU 100 Tahun). Sementara itu skenario 2 memiliki potensi penundaan waktu awal limpasan permukaan yang berkisar antara 7,7 - 11,4 menit (PU 2 Tahun) dan antara 4 - 5,9 menit (PU 100 Tahun). Kata kunci: infrastruktur hijau, limpasan permukaan, tata guna lahan, banjir pluvial, pemanenan air hujan