Planners InSight Vol. 2 No. 1, Februari 2019 | ISSN 2615 – 7055 JURNAL PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA INSITUT TEKNOLOGI SAINS BANDUNG 3 Pembangunan Di Kabupaten Pegunungan Bintang (Studi Kasus : Desa Denom Atukbin, Distrik Pepera) Normalia Ode Yanthy 1 dan Y.L.M. Sitorus 2 1 Staf Pengajar pada Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota USTJ 2 Staf Pengajar pada Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota USTJ e-mail: nala_ustj2006@yahoo.co.id Abstrak Berbagai program percepatan pembangunan yang direncanakan untuk wilayah Papua lebih banyak mengandalkan modal pembangunan yang berasal dari luar Papua dan kurang memperhatikan modal pembangunan dari dalam, seperti: modal manusia, sosial dan budaya orang asli Papua sendiri. Arah pembangunan menuju modernisasi di Papua tanpa mengandalkan modal pembangunan lokal yang ada akan membutuhkan dana yang sangat besar mengingat masih tertinggalnya peradaban di wilayah ini. Salah satu daerah yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah Desa Denom Atukbin yang direncanakan akan berkembang menjadi kota mandiri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Terbatasnya modal pembangunan lokal berupa sumber daya manusia (kuantitas dan kualitas manusia masih rendah) dan fasilitas pendukung (sarana prasarana masih minim) menunjukkan bahwa implementasi rencana pembangunan yang disusun oleh pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang akan memerlukan dana yang jauh lebih besar (modal pembangunan dari luar). Dalam prosesnya, penduduk asli Desa Denom Atukbin diperkirakan tidak akan banyak terlibat atau bukan pelaku utama pembangunan tersebut. Abstract Various development acceleration programs planned for the Papua region rely more on development capital from outside Papua and pay little attention to development capital from within, such as: human capital, social and cultural Papuans themselves. Development towards modernization in Papua without relying on existing local development capital will require enormous funds because civilizations in this region are still lagging behind. The study area in this study is Denom Atukbin Village which is planned to develop into an independent city. This study uses a qualitative research approach with descriptive analysis methods. The limitation of development capital of local human resources (the quantity and quality of human beings is still low) and supporting facilities (infrastructure is still minimal) shows that the implementation of the development plan prepared by the Pegunungan Bintang Regency government will require greater funds (because it uses development capital from outside). In the process, the original inhabitants of Denom Atukbin Village are not expected to be involved much or not the main actors of the development. Kata kunci: peradaban, orang asli Papua, modal pembangunan I. PENDAHULUAN Perencanaan pembangunan yang dilakukan di Papua umumnya bersifat normatif dan mengikuti ketentuan yang diturunkan mulai dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, seperti misalkan rencana pembangunan harus disusun dengan jangka waktu-waktu tertentu, yaitu jangka pendek (setiap tahun), menengah (5 tahun) dan panjang (20 tahun). Dalam rangka efisiensi, pemerintah biasanya menentukan daerah- daerah tertentu menjadi pusat-pusat layanan bagi wilayah di sekitarnya, tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah penduduk yang ada di sana mampu menjangkau fasilitas- fasilitas layanan publik tersebut mengingat keterbatasan misalkan sarana prasarana transportasi dan kemampuan ekonomi untuk membayar biaya transportasi. Tidak sama