EcoGen Volume 2, Nomor 3, 5 September 2019 364 Perbandingan Hasil Belajar Dengan Menggunakan Model Group Investigation Dan Quantum Teaching Pada SMK Negeri 1 Lubuk Basung “Studi Kasus Pada Siswa Kelas X Akuntansi Mata Pelajaran Akuntansi Dasar” PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL GROUP INVESTIGATION DAN QUANTUM TEACHING PADA SMK NEGERI 1 LUBUK BASUNG “STUDI KASUS PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI MATA PELAJARAN AKUNTANSI DASAR Nika Dayani 1 , Annur Fitri Hayati 2 Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Padang E-mail : nikadayani150716@gmail.com Abstract: Comparison of student learning outcomes between learning using the Group Investigation Model and Quantum Teaching on Financial Report material. This study aims to determine the differences and improvement of student learning outcomes in the application of Group Investigation and Quantum Teaching in financial report material. The research design used was the Nonequivalent Control Design Group. In the first experimental class the average score of student learning outcomes was 80.95 and the increase in the average score of student learning outcomes was 47.57 with N-gain of 0.71 (high category). In the second experimental class the average score of student learning outcomes was 88.24 and the increase in the average score of student learning outcomes was 52.05 with N-gain of 0.81 (high category). The results of the study showed that there were differences in student learning outcomes between the experimental classes applying the Group Investigation and Quantum Teaching. These results indicate that the application of the Quantum Teaching model is higher for improving student learning outcomes. Keyword: group investigation, student learning outcomes, quantum teaching PENDAHULUAN Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Pendidikan adalah sesuatu yang berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu perubahan dalam rangka perbaikan pendidikan perlu dilakukan demi kepentingan masa depan Indonesia. Pendidikan di Indonesia saat ini masih jauh tertinggal di bandingkan negara lain. Menurut data United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) 2016 Indonesia berada di posisi 108 dunia dengan skor 0,603 dan pendidikan di Indonesia masih di bawah Palestina, Samoa, dan Mongolia. Selain itu, ada 44 persen penduduk Indonesia yang menuntaskan pendidikan menengah. Sementara 11 persen murid gagal menuntaskan pendidikan dan keluar dari sekolah sebelum dinyatakan lulus. Proses pembelajaran di kelas sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh oleh siswa yang berimbas pada buruknya pendidikan di Indonesia. Peran guru sangat penting, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mampu diserap oleh siswa. Guru dituntut untuk mempunyai kreativitas dan mengikuti perkembangan zaman. Menurut Hamzah (2012: 13) kreativitas adalah kemampuan untuk membuat atau menciptakan hal-hal baru atau kombinasi baru berdasarkan data, informasi, dan unsur- unsur yang ada dan pembelajaran kreatif perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Masalah utama dalam pembelajaran pada Pendidikan Formal (sekolah ) adalah rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rata-rata hasil belajar peserta didik yang masih sangat memprihatikan. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Menurut Slameto (2010:54) salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor metode mengajar yang dilakukan oleh guru saat pembelajaran di dalam kelas. Implementasi yang terjadi dilapangan saat ini menunjukkan proses pembelajaran Akuntansi di SMK Negeri 1 Lubuk Basung masih dilakukan secara konvensional. Berdasarkan hasil observasi awal dan penyebaran angket yang peneliti lakukan pada 45 siswa kelas X Akuntansi. Berdasarkan angket respon siswa terhadap pembelajaran akuntansi diperoleh hasil bahwa 42 orang siswa merasa bosan, mengantuk, pasif dalam pembelajaran akuntansi serta guru masih dominan dalam