1 Kasus Tewasnya Munir Said Thalib (Kronologis dan Rekomendasi) BOY ANUGERAH KRONOLOGIS & FAKTA HISTORIS Munir Said Thalib, kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965, adalah seorang aktivis HAM Indonesia. Pernah bekerja di Dewan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), serta menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Sebagai aktivis, ia sangat vokal membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dan Kopassus. Beberapa kasus penting yang ditangani Munir di antaranya; kasus Marsinah yang dibunuh militer pada 1994, menjadi penasehat hukum para korban dan keluarga korban penghilangan orang secara paksa, yang mana korbannya adalah 24 mahasiswa dan aktivis politik di Jakarta dalam rentang 1997 dan 1998, penasehat hukum korban dan keluarga korban pembantaian dalam tragedi Tanjung Priok 1984 yang notabene melibatkan pihak militer sebagai pelakunya, penasehat hukum korban dan keluarga korban dalam tragedi Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999), penasehat hukum serta koordinator advokasi kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Aceh dan Papua yang mana kasus-kasus pelanggaran berat di kedua wilayah tersebut merupakan produk kebijakan opresif militer, dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya. Secara garis besar, kasus-kasus yang ditangani Munir berada pada dua hal, (1) pelanggaran HAM akibat politik kebijakan orde baru, dan (2) pelanggaran HAM akibat operasi militer dengan mengatasnamakan negara. Salah satu langkah berani yang dilakukan oleh Munir adalah memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk membawa para pejabat tinggi militer yang terlibat dalam pelanggaran HAM di Aceh. Papua, dan Timor Leste (dulu Timor Timur) ke pengadilan. Pada September 1999, Munir kemudian ditunjuk sebagai Anggota Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM (KPP- HAM) Timor Timur. Kiprahnya sebagai aktivis HAM ini membuat Munir selalu akrab dengan bahaya. Sebelum wafat, Munir pernah mendapat teror bom yang meledak di pekarangan rumahnya di Jakarta pada Agustus 2003. Sebelumnya, pada 2002, kantornya, Kontras, pernah diserang oleh beberapa orang tak dikenal. Para penyerang menghancurkan perlengkapan kantor dan mengambil secara paksa dokumen yang diselidiki Kontras. Munir tewas pada 7 September 2004 di pesawat Garuda Indonesia yang membawanya terbang dari Jakarta menuju ke Amsterdam, Belanda. Ia tewas dua jam sebelum pesawat yang membawanya ke Belanda tiba di Bandara Schipol, Amsterdam. Pada 12 November 2004, dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah proses otopsi dilakukan. Hal ini juga dikonfirmasi oleh otoritas Indonesia. Munir dimakamkan di Taman Makam Umum, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Tanggal kematiannya, 7 September, dicanangkan oleh para