24 Pengaruh Hegemoni Barat Terhadap Transmisi Alat Musik Sasando: Perubahan Tangga Nada Pentatonik ke Diatonik di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Jefri Soli Kabnani 1 Program Studi Musik Gereja, Fakultas Seni Musik Keagamaan Kristen, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang ABSTRACT Te Efect of Western Hegemony on the Transmission of Sasando Musical Instrumens: Changes in Pentatonic to Diatonic Scales in Kupang, East Nusa Tenggara. Tis study aims to determine the leading causes of changing the pentatonic ladder to the diatonic scale of the Sasando musical instrument in East Nusa Tenggara (NTT). Data were obtained by using qualitative methods. Te problems occurred by the change in the scale of the Sasando gong to the Sasando violin, which resulted in the tendency of East Nusa Tenggara people, especially the city of Kupang, in which the lifestyle of the Western world caused them to leave the local traditions. Te values, meanings, and social functions of the sasando gong will soon diminish and even disappear for future generations. Te author used the concept of Leela Gandhi and Edward Said in general to discuss the eforts of overthrowing Western hegemony, where the domination of the Western over the East considers the East as the weak and full of imagination. Based on the research, it is concluded that the Sasando musical instrument experienced a change from the pentatonic to the diatonic scale due to the entry of invaders to Indonesia, especially in East Nusa Tenggara through the mission of spreading Christianity. Other causes for these changes are infuenced by mass culture, popular culture, and the development of the market industry. Tese changes are development steps that include scales, playing techniques, materials, shapes, and ornaments or accessories. Keywords: sasando; transmission; pentatonic; diatonic ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab utama perubahan tangga pentatonik ke tangga nada diatonik pada alat musik sasando di Nusa Tenggara Timur (NTT). Data diperoleh dengan menggunakan metode kualitatif. Permasalahan yang terjadi dari perubahan tangga nada sasando gong ke sasando biola ini mengakibatkan tendensi masyarakat NTT, khususnya kota Kupang mengarah pada gaya hidup dunia Barat seakan-akan mulai meninggalkan tradisi lokal. Nilai-nilai, makna dan fungsi sosial sasandu gong menjadi berkurang bahkan akan hilang di generasi mendatang. Penulis menggunakan konsep Leela Gandhi dan Edward Said secara umum membahas tentang upaya meruntuhkan hegemoni Barat, dimana terjadinya dominasi kekuasaan dunia Barat terhadap dunia Timur yang menganggap dunia Timur sebagai kaum yang lemah dan penuh dengan imajinasi belaka. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa alat musik sasando mengalami perubahan dari tangga nada pentatonik ke diatonik disebabkan karena masuknya penjajah ke Indonesia khusunya di Nusa Tenggara Timur melalui misi penyebaran agama Kristen. Penyebab lain atas perubahan tersebut dipengaruhi oleh budaya massa, budaya populer dan perkembangan industri pasar. Semua perubahan itu merupakan langkah pengembangan yang meliputi tangga nada, teknik permainan, bahan, bentuk, serta ornamen atau aksesoris. Kata kunci: sasando; transmisi; pentatonik; diatonik Vol. 22 No. 1, April 2021: 24-35 Alamat korespondensi: Prodi Musik Gereja, Fakultas Seni Musik Keagamaan Kristen, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Jln. Cak Doko No. 76, Kampung Baru, Kupang. E-mail: kabnanijefri@gmail.com; HP.: 085338620356. 1 Naskah diterima: 7 Desember 2020 | Revisi akhir: 13 Maret 2021