JPIS, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 2, Edisi Desember 2014 91 PEMANFAATAN SITUS KESULTANAN DELI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL BERBASIS MULTIKULTURAL (Penelitian naturalistik inquiri di SMA Panca Budi Medan) Abdul Haris Nasution, Prodi Pendidikan Sejarah, SPs, Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Pembelajaran sejarah lokal sangat strategis sebagai sarana pengembangan nilai-nilai multikulturalisme. Nilai-nilai multikulturalisme yang tekandung pada situs Kesultanan Deli telah dimanfaatkan oleh SMA Panca Budi Medan. Kenyataan tersebut menjadi dasar ketertarikan penulis dalam melakukan penelitian mengenai pemanfaatan situs Kesultanan Deli dalam pembelajaran sejarah lokal berbasis multikultural. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif naturalistik dengan tehnik pengumpulan data yaitu observasi (pengamatan) inteview (wawancara), dokumentasi dan gabungan ketiganya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pembelajaran sejarah lokal berbasis multikultural dengan memanfaatkan situs Kesultanan Deli memberikan pengaruh yang positif terhadap pengetahuan, perilaku siswa dan kreatifitas siswa. Selain memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap sejarah Kesultanan Deli, keadaan masyarakat dan situs-situs peninggalan Deli secara kritis, siswa juga mampu mengimplemetasikan nilai-nilai multikulturalisme yang terdapat pada materi sejarah Kesultanan Deli yaitu sikap toleransi, tolong-menolong, dialog terbuka dan berbaik sangka terhadap masyarakat dari etnis maupun kepercayaan yang berbeda. Kata kunci: Situs Kesultanan Deli, Pembelajaran Sejarah Lokal, Multikultural PENDAHULUAN Pendidikan sejarah sejatinya bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang jati diri siswa sebagai bagian dari suatu bangsa. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Kombinasi antara ras, suku, kebangsaan, latar belakang keluarga dan individu yang berpadu membentuk individu yang unik dan berbeda dengan orang lain. Namun melalui nilai-nilai yang diperoleh dari sejarah yang ditanamkan melalui proses pendidikan, memungkinkan setiap siswa untuk memiliki pemahaman diri tentang identitasnya sebagai bagian dari suatu bangsa yang majemuk. Oleh karena itu, penting bagi guru sejarah untuk mengimplementasikan pembel- ajaran yang sarat akan nilai-nilai multikultural, yaitu suatu nilai yang meng- akomodasi adanya penerimaan diri terhadap perbedaan kultur, etnis dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Apalagi bila mengingat banyaknya konflik SARA yang pernah terjadi di beberapa daerah baik secara fisik maupun berupa convert conflict (konflik tertutup). Contoh fenomena kecil yang dapat diamati sehari-hari ialah adanya stereotipe- stereotipe yang melekat pada etnis-etnis dan kepercayaan tertentu yang sebenarnya tidak dapat dianggap sepele. Misalnya sebutan Melayu malas kepada etnis Melayu, Batak jorok kepada etnis Batak, Cina picik kepada etnis Cina, Aceh peungo dan lain sebagai- nya. Belum lagi berkembangnya sikap eksklusifisme menjadi dinding abstrak yang membatasi pergaulan masyarakat antar etnis. Fenomena-fenomena kecil dalam masyarakat tersebut tentunya mencederai slogan Bhineka Tunggal Ika yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sejarah sebagai sarana pengem-bangan nilai- nilai multikulturalisme pernah menjadi pembahasan penting dalam Mukernas Pendi- dikan Sejarah tahun 2006. Dimana poin terpenting dari hasil Mukernas tersebut ialah pentingnya implementasi pembelajaran materi-materi sejarah yang bersumber pada