Jurnal Matematika Integratif ISSN 1412-6184 Volume 11 No 2, Oktober 2015, pp 127 - 136 127 Pengembangan Desain Didaktis Materi Pecahan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Jaky Jerson Palpialy dan Elah Nurlaelah Program Studi Pendidikan Matematika SPS UPI Bandung Jl. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung 40154 Email: jpalpialy@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan desain didaktis materi pecahan di SMP. Desain didaktis dikembangkan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi hambatan belajar (learning obstacles) yang dihadapi siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan mengikuti tiga tahap pada penelitian desain didaktis ( Didactical Design Research). Subyek penelitian adalah 60 siswa kelas VII dan VIII tahun pelajaran 2014/2015 dan 35 siswa kelas VII tahun pelajaran 2015/2016, pada salah satu SMP Negeri di Kabupaten Halmahera Utara. Dari hasil penelitian diperoleh informasi: (1) hambatan belajar siswa yang teridentifikasi, seperti melakukan generalisasi konsep bilangan cacah dan bilangan bulat pada konsep pecahan, dan pengetahuan tentang operasi hitung pecahan yang terbatas pada pemahaman prosedural; (2) desain didaktis empirik terkait materi pecahan di SMP. Kata kunci: Desain didaktis, Learning obstacles, pecahan. 1. Pendahuluan Salah satu topik dalam matematika yang tergolong sulit dipelajari siswa adalah bilangan pecahan. Dalam laporan yang dipublikasikan oleh UNESCO (2010), yang memuat temuan NCTM pada tahun 2007 tentang pembelajaran pecahan, mengemukakan bahwa siswa di seluruh dunia mengalami kesulitan dalam mempelajari pecahan. Di banyak negara, rata-rata siswa tidak pernah memperoleh pengetahuan konseptual yang baik tentang pecahan. Sebagai contoh pada ujian nasional di Amerika, hanya 50% siswa kelas 8 yang dapat mengurutkan tiga pecahan dengan benar, dari nilai yang terkecil sampai terbesar (Fazio & Siegler, 2010). Fazio dan Siegler mengemukakan pula bahwa Negara-negara seperti Cina dan Jepang, pecahan dianggap sebagai topik yang sulit. Salah satu alasan kesulitan yang dihadapi dalam mempelajari pecahan adalah bahwa banyak sifat-sifat yang berlaku pada bilangan bulat tidak berlaku untuk semua bilangan. Misalnya, dengan pecahan, perkalian tidak selalu menghasilkan bilangan yang lebih besar dari bilangan yang dikalikan, pembagian tidak selalu mengarah pada bilangan yang lebih kecil dari bilangan yang dibagi. Salah satu contoh yang pernah diungkapkan oleh Noura (2009), pemahaman siswa sebelumnya bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang : dan , tetapi pemahaman ini membawa kesulitan bagi mereka dalam menerjemahkan dan menguraikan atau dengan menggunakan strategi yang sama. Mereka membutuhkan strategi yang lain untuk menjelaskan perkalian pecahan. Di Indonesia, siswa telah mempelajari pecahan sejak di Sekolah Dasar, namun pada kenyataannya dalam mempelajari pecahan lanjutan di Sekolah Menengah Pertama, banyak siswa yang belum memiliki pemahaman yang baik terhadap pecahan. Hal ini mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari pecahan lebih lanjut, terutama menyelesaikan masalah dalam bentuk soal cerita dan masalah yang berkaitan dengan pecahan dalam mata pelajaran yang lain. Bahkan pemahaman siswa yang kurang terhadap pecahan dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya pencapaian mereka dalam materi pecahan di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Kesulitan siswa dalam mempelajari materi pecahan di Sekolah Dasar maupun di Sekolah Menengah Pertama, telah dikemukakan oleh beberapa peneliti terdahulu yang meneliti tentang kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa, bahkan dalam penelitian pendidikan matematika yang berkaitan dengan materi pecahan. Dalam penelitian-penelitian yang dilakukan tersebut, kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari pecahan diidentifikasi sebagai wujud dari hambatan belajar (Learning Obstacles) yang dialami siswa.