JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F95 Abstrak—Penggunaan koagulan Al2SO4 dalam pengolahan air minum dan menghasilkan produk samping berupa lumpur alum. Dampak yang ditimbulkan dari akumulasi aluminium di badan sungai yakni dapat membahayakan kesehatan manusia dan mengganggu kelangsungan hidup biota sungai. Bioremediasi merupakan salah satu teknologi remediasi yang memanfaatkan mikroorganismen dan dapat digunakan untuk menyisihkan logam aluminium. Salah satu mikroorganisme yang dapat menyisihkan logam aluminium adalah jamur Aspergillus niger. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik awal lumpur alum dari IPAM X meliputi konsentrasi aluminium, pH, suhu, densitas, kadar air serta porositas, efisiensi penyisihan aluminium dengan variasi penambahan serbuk gergaji sebagai bulking agent dan konsentrasi penambahan jamur Aspergillus niger (5 dan 10% (v/v)) serta bioremediasi paling efektif berdasarkan berbagai variasi yang telah disebutkan. Karakteristik lumpur alum dari IPAM X yakni memiliki konsentrasi aluminium 250 mg/L, pH 8,61 dengan suhu 31 o C, massa jenis 1240 kg/m 3 , kadar air 98% serta angka porositasnya 0,0230. Pada penambahan 5 dan 10% (v/v) Aspergillus niger didapatkan efisiensi penyisihan aluminium pada sampel 100% lumpur alum yakni masing-masing 8,45% dan 9,08% sedangkan pada sampel 97% lumpur alum dan 3% serbuk gergaji yakni masing-masing 8,27% dan 10,11%. Didapatkan kesimpulan bahwa bioremediasi yang paling efektif untuk penyisihan aluminium yakni pada penambahan 10% (v/v) Aspergillus niger pada 97% lumpur alum dan 3% serbuk gergaji sebesar 10,11%. Kata Kunci—Aspergillus niger, bioremediasi, aluminium, lumpur alum I. PENDAHULUAN OAGULAN aluminium sulfat (Al 2 SO 4 ) digunakan dalam proses pengolahan air minum dan menghasilkan produk samping berupa lumpur alum [1]. Lumpur alum pada unit accelator pada IPAM X dibuang secara langsung ke badan sungai tanpa pengolahan lebih lanjut [2]. Aluminium yang berasal dari lumpur alum tanpa melewati pengolahan lumpur adalah sebesar 27-153 (g/kg) [3]. Rujukan lain menyatakan bahwa kadar aluminium total pada unit accelator adalah sebesar 4794 (mg/L) [4]. Limbah lumpur yang berasal dari pengolahan air bersih PDAM memiliki kandungan logam aluminium yang tergolong sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) [5]. Toksisitas aluminium pada manusia dapat menyebabkan kerusakan jaringan detoksifikasi, serta ekskresi hati dan ginjal [5]. Apabila lumpur alum dibuang ke badan sungai maka dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai. Dampak lain yang ditimbulkan adalah membahayakan kesehatan manusia yang menggunakan air sungai, serta kelangsungan hidup biota sungai akan terganggu akibat akumulasi lumpur alum yang berada di badan sungai [6][7]. Klasifikasi standar kandungan aluminium dalam pH 6,5 untuk kualitas air permukaan, yakni pada kelas 5 memiliki konsentrasi aluminium yang ada di dalam permukaan air mencapai kondisi toksik bagi perairan, yakni >75 μg/L [8]. Bioremediasi merupakan salah satu teknologi remediasi yang memanfaatkan mikroorganisme. Teknologi ini digunakan untuk remediasi sebuah area dan dapat memperbaiki sebuah lahan yang tercemar secara menyeluruh [9]. Teknologi bioremediasi dipilih karena ekonomis, cukup efektif, efisien, dan lebih ramah lingkungan [10]. Beberapa mikroorganisme yang dapat digunakan untuk bioremediasi logam adalah Bacillus spp., Pseudomonas spp., Staphylococcus spp., dan Aspergillus niger [11]. Aspergillus niger resisten dengan kadar aluminium sebesar 2000 mg/L [12]. Aspergillus niger mampu untuk menurunkan konsentrasi aluminium pada iron slime sebanyak 38,1% [13]. Laju biodegradasi dalam proses bioremediasi dapat ditingkatkan dengan penambahan bulking agent. Bulking agent adalah bahan tambahan yang digunakan untuk memperbaiki permeabilitas dan meningkatkan laju biodegradasi dalam proses pemulihan. Bulking agent juga berfungsi sebagai pengatur porositas, kelembaban, dan sumber nutrisi. Bulking agents yang digunakan berupa serbuk gergaji, sludge sisa biogas, dan kompos [14]. Bioremediasi dengan penambahan serbuk gergaji halus sebanyak 500 gram menghasilkan penurunan TPH hingga 44% dibandingkan dengan bioremediasi tanpa menggunakan serbuk gergaji ataupun bulking agent lainnya yakni hanya menghasilkan penurunan TPH sebesar 20% [15]. Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik awal lumpur alum dari IPAM X meliputi konsentrasi aluminium, pH, suhu, densitas, kadar air serta porositas, efisiensi penyisihan aluminium dengan variasi penambahan serbuk gergaji sebagai bulking agent dan konsentrasi penambahan jamur Aspergillus niger (5 dan 10% (v/v)) serta bioremediasi paling efektif berdasarkan berbagai variasi yang telah disebutkan. Bioremediasi Lumpur Alum menggunakan Aspergillus niger dengan Penambahan Serbuk Gergaji sebagai Bulking Agent Indira Wido Primadipta dan Harmin Sulistiyaning Titah Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: harmin_st@its.ac.id K