1 PRIBADI ALLAH DAN NAMANYA: Bagaimana Perspektif Tokoh Gereja Pantekosta di Indonesia? G. A. Pandjaitan, M.Th Abstrak Siapa sejatinya Allah: Pribadi dan Nama-Nya? Ini sedang digugat oleh orang dan organisasi tertentu, sehingga seolah- olah banyak orang memperkarakan Allah. Sadar atau tidak itu menimbulkan kerisauan teologis dan organisasi gereja di Indonesia. Banyak silang pendapat terkait dengan penggunaan nama ―ALLAH.‖ Ada sejumlah sisi pandang dan titik tekannya, tetapi umumnya mengerucut pada sejarah Semantik Elohim dan Yehowah dalam Alkitab, kegiatan atau liturgi ibadah, dan misi Kristiani. Perbedaan itu hal yang biasa terjadi dan memang harus dibiasakan untuk saling mengayakan dan memperluas pemahaman. Yang tidak boleh terjadi adalah perbedaan yang mengakibatkan perpecahan, tensi negatif, apalagi saling mengklaim kebenaran perspektif pribadi, yang sering dibungkus dengan otoritarianisme jabatan struktural. Artikel ini sebagai analisis akademik terkait soal ini, sehingga bukan lagi hanya asumsi personal semata yang dibangun atas dasar tulisan-tulisan biasa dari Alkitab seperti yang tertulis literal di dalam Alkitab tersebut. Seorang tokoh GPdI-Gereja Pantekosta di Indonesia dan Dewan Guru STTS merasa terpanggil untuk memberikan kontribusi akademik disini. Dengan mengatakan ini, bukan berarti Alkitab sudah lagi tidak cukup menjelaskan hal itu, tetapi karena terkait dengan pribadi Allah dengan varian namaNya sesuai dengan konteks geografis, spirit zaman, dan peristiwa yang terjadi kala itu, terkait dengan masa sekarang ini, maka perlu juga perspektif kita dibangun dasar analisis yang lebih komprehensif. Artikel ini dianalisis dari perspektif historis, linguistika dan etimologi kata, atau terminologi yang sering terkait langsung dengan Allah (pribadi dan namaNya). Data temuan menunjukkan bahwa jika dilihat dari sisi historis zaman pra islam, dan beberapa daerah di wilayah Arabia sekitarnya, penjelasan Lembaga Alkitab Indonesia sebagai badan resmi yang dipercaya secara nasional dan internasional untuk mengelola soal penterjemahan, pencetakan dan distribusi Alkitab, sejatinya tidak ada masalah substansial soal Pribadi dan namaNya. Yang seolah-olah berbeda hanya karena jenis kata yang disesuaikan dengan letak geografisnya saja. Tujuan artikel ini untuk membangun perspektif akademik berdasarkan data dan fakta meski secara tekstual atau literatur. Artikel ini dimanfaatkan untuk menggugah semangat analisis akademik dari para tokoh yang lain, dan mahasiswa di sekolah Alkitab GPdI dan juga di Sekolah Tingginya. Perbedaan sudut objektifikasi mungkin akan banyak, apalagi dari perspektif, gramatikal, historikal, kultural, dan kontekstual, dsbnya, tetapi hasilnya, semoga memberikan sesuatu kontribusi kecil yang bermakna bagi nternal organisasi GPdI, non GPdI, dan sahabat atau agama lain di Indonesia. Kata Kunci: Allah, Namanya, Elohim, Yahweh, Gereja Pantekosta di Indonesia A. Sejarah Rumpun Bahasa dan Agama Semit. Bahasa Semit digunakan oleh beberapa kelompok bangsa misalnya (1) bagian timur termasuk orang Babilonia, orang Assiria; (2) bagian Utara termasuk orang Siriac dan orang Aramic; (3) bagian Barat misalnya orang Kanaaan, orang Phoenician, dan orang Ibrani, dan (4) bagian Selatan misalnya orang Arab, orang Sabean dan orang Etiopia. Hal ini sama seperti pendapat bahwa bahasa Ibrani termasuk dalam rumpun bahasa Semit yang tidak berbeda jauh dengan bahasa orang Kanaan. Itu sangat berhubungan erat dengan bahasa yang dipakai di sekitar Kanaan dan Israel, seperti Phoenician, Moabite, Ammonite, and Ugaritic. Cabang rumpun Bahasa utama dari Semit lainnya dipakai di daerah Aram seperti bahasa yang dipakai oleh Yesus. Bahasa orang Akkadian, atau Babylonian juga berbahasa Semit. Bahasa Arab Modern juga termasuk dalam rumpun bahasa Semit. 1 Dari hal ini terlihat bahwa ada kaitan sejarah dan kaidah kebahasaan antara bahasa Semit, bahasa Ibrani, bahasa Arab dan akhirnya bahasa Indonesia pada peradaban selanjutnya. Tentu ini juga mempengaruhi perkembangan peradaban, keagamaan termasuk bahasa serta makna suatu kata selanjutnya, karena berasal dari satu rumpun. Dalam hal agama misalnya, Menurut Edward Mack (2003), bahwa menurut catatan sejarah bahwa agama Orang Ibrani saat ini, bukanlah suatu 1 Hebrew Society, History, Religion, and Texts dalam http://faculty.gvsu.edu/websterm/Genesis.htm, diakses 10 Mei 2008. perkembangan baru, bukan juga terpisah dari sekumpulan suku bangsa dan bahasa Semit lainnya, tetapi tetap mempertahankan pada penyembahan nenek moyang mereka. Abraham, Musa dan Nabi-nabi selanjutnya bukanlah orang yang membentuknya dari awal, tetapi mengubahnya (tepatnya memperbaharui – reformers- atau mengembangkannya – revivers- yang menghendaki atau mempertahankan bangsa Ibrani tetap benar atau melestarikan agama Ibrani. Konsep agama yang dikembangkan dari agama Semit sebelumnya, menurut beberapa tokoh yakni: (1) Its Peculiar Theism. Agama yang memiliki konsep keTuhanan sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah (monotheism). Orang Ibrani – Israel menganggap bahwa sesembahan Israel adalah Yahweh (the God of Israel in the universal He was Yahweh, Lord of all the earth) 2 . (2) Personality of God. Tuhan memiliki yang dapat berhubungan, berkomunikasi dan menyatakan diriNya dengan umatnya sebagai satu pribadi, bapak dan teman (as a person, as father, or as friend) bukannya melalui dan menjelma dalam hal Materialistic, Nature-symbol (benda-benda, alam dan simbol-simbol) 3 . (3) Its View of Nature. Tuhan yang menciptakan Alam semesta. Ia bukan Alam semesta itu seperti yang dipercayai oleh bangsa Semitic lainnya, walau Ia hadir lewat benda- 2 Thomas W. Ogletree, The Use ofthe Bible in Christian Ethics (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2003), h. 72 3 James H. Snowden, The Personality of God (Charleston, South Carolina: Bibliolife Publisher, 2009). h. 12.