Jurnal Medika Veterinaria Agustus 2018 12 (2):124 - 132 I-SSN : 0853-1943; E-ISSN : 2503-1600 DOI:https://doi.org/10.21157/j.med.vet.v1 1i1.4065 124 The Isolation of Salmonella sp. on quail eggs (cortunxi-cortunix japonica) that failed to hatch in Garot, Darul Imarah Subdistrric, Aceh Besar Latifa Suryandari 1 , Erina 2 , Darniati 2 , Safika 2 , Nuzul Asmilia 3 , M. Nur Salim 4 1 Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 2 Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 3 Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 4 Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh E-mail: tifa_ndari@yahoo.com ABSTRACT The study aimed to isolate the Salmonella sp on quail eggs that failed to hatch in Garot village, Darul Imarah Subdistrict, Aceh Besar. A total of thirty quail eggs that failed to hatch were examined in microbiology laboratory of Veterinary Medicine Faculty, Syiah Kuala University. Modification of Carter method was used in this study to isolated samples. The eggs were opened for taking the embryo and then it was swabbed with sterile swabs. The swab was put into Selenite Cystine Broth (SCB) and incubated at 37o C for 24 hours. The breed was then transferred onto Salmonella Shigella Agar (SSA). The growing Bacteria were observed for their morphology and Gram staining to make sure the bacteria belonged to the negative Gram. The result showed that 10 of the 30 of quail eggs that failed to hatch were positively infected with Salmonella sp. Based on this study, it can be concluded that the salmonella sp. can be isolated from quail eggs which were not hatched in the farm of Garot, Darul Imarah Subdistrict, Aceh Besar. Keyword : quail egg, Salmonella sp, SCB, SSA PENDAHULUAN Usaha peternakan unggas semakin diminati masyarakat, hal ini disebabkan karena peternakan unggas merupakan usaha yang bisa dilakukan dari skala rumah tangga sampai skala besar. Salah satu jenis peternakan unggas yang saat ini diminati masyarakat adalah beternak burung puyuh, karena ternak burung puyuh memiliki keunggulan untuk memproduksi telur dengan cepat dan banyak (Listiyowati dan Roospitasari, 2007). Menurut Yuwanta (2004), definisi unggas adalah jenis ternak bersayap dari kelas Aves yang telah didomestikasi dan cara hidupnya telah diatur oleh manusia dengan tujuan untuk memberikan nilai ekonomis dalam bentuk daging, telur dan jasa. Telur merupakan salah satu bahan makanan sempurna yang mengandung nilai gizi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Burung puyuh dapat ditemukan di seluruh bagian dunia, hidupnya kebanyakan masih liar dan hanya sebagian kecil yang sudah dibudidayakan. Puyuh bisa dijumpai di Indonesia, Asia, Australia, Eropa, Afrika sampai ke Amerika. Puyuh dapat ditemukan di dataran rendah sampai dataran tinggi (Nugroho dan Mayun 1981). Burung puyuh di Indonesia diternakkan dengan tujuan sebagai penghasil telur, walaupun produktivitas burung puyuh sebagai petelur belum optimal sepenuhnya. Kendala yang sekarang dihadapi terutama adalah faktor suhu lingkungan yang tinggi di wilayah yang mempunyai iklim tropis. Suhu yang optimal untuk produktivitas puyuh berkisar antara 10 30 o C sedangkan suhu diatas 30 o C akan mempengaruhi pertumbuhan, konsumsi, pakan serta, produksi, ukuran dan kualitas kerabang telur (Rao dkk., 2002). Telur puyuh mengandung 13.05 gr protein dan 11,09 gr lemak dalam per 100 gr, nilai gizi telur puyuh ini tidak kalah dari nilai gizi telur ayam ras yang mengandung 12,56 gr protein dan 9,51 gr lemak dalam