Jurnal Ilmiah Mandala Education http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JIME/index Terakreditasi Peringkat 4 (No. SK: 36/E/KPT/2019) Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN: 2442-9511 e-ISSN: 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education | 194 Eksistensi Tari Kabasaran Pada Masyarakat Minahasa Nismawati 1 , Shermina Oruh 2 , Andi Agustang 3 1 Mahasiswa Pascasarjana S3 Sosiologi Universitas Negeri Makassar 2 Dosen Universitas Pejuang Republik Indonesia 3 Dosen Universitas Negeri Makassar Email: nismaimma019@gmail.com, shoruh68@gmail.com, andiagust63@gmail.com Abstract This research discusses the existence of Kabasaran dance with the Minahasa culture in Tondano. This research was carried out to find out by exploring the meaning of cultural heritage that needs to be revealed. The diversity of Minahasa culture has a cultural meaning from the ancient Tou Minahasa generation until now which is still clear in its existence in the community and it needs to be translated into the meaning of that culture. One of them is the Kabasaran dance, which is a war dance that has three stages consisting of separate dance forms that have meaning. The research used is qualitative research with ethnographic methods. The informants taken consisted of cultural figures and performers of the Kabasaran dance. Collecting data through observation, interviews and documentation. The analysis conducted for qualitative data refers to the model proposed by Miles and Huberman. Kabasaran dance has dance equipment including accessories, uniforms, swords, and shields. Dance equipment has cultural symbols that need to be translated. These symbols have a meaningful and beneficial life value for generations of cultural heirs. The Kabasaran dance is one of the local wisdom that is preserved and is a regional cultural specialty and is a cultural asset of Indonesia. Kabasaran dance implicitly describes the unity of the Minahasa people in providing a sense of security and defending their homeland with all their strength. Keywords: Culture, Kabasaran Dance, Existence, Minahasa Abstrak Penelitian ini membahas tentang keberadaan tari Kabasaran dengan budaya Minahasa di Tondano. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dengan menggali makna warisan budaya yang perlu diungkap. Keanekaragaman budaya Minahasa memiliki makna budaya dari generasi Tou Minahasa kuno sampai sekarang yang masih jelas keberadaannya di masyarakat dan perlu diterjemahkan ke dalam makna budaya tersebut. Salah satunya adalah Tari Kabasaran, yaitu tarian perang yang memiliki tiga tahapan yang terdiri dari bentuk-bentuk tarian tersendiri yang memiliki makna. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Informan yang diambil terdiri dari tokoh budaya dan pelaku tari Kabasaran. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang dilakukan untuk data kualitatif mengacu pada model yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Tari Kabasaran memiliki perlengkapan tari meliputi asesoris, seragam, pedang, dan tameng. Peralatan tari memiliki simbol- simbol budaya yang perlu diterjemahkan. Simbol-simbol tersebut memiliki nilai hidup yang bermakna dan bermanfaat bagi generasi penerus budaya. Tari Kabasaran merupakan salah satu kearifan lokal yang dilestarikan dan merupakan ciri khas budaya daerah serta merupakan aset budaya Indonesia. Tari Kabasaran secara implisit menggambarkan kesatuan masyarakat Minahasa dalam memberikan rasa aman dan mempertahankan tanah air dengan sekuat tenaga. Kata kunci: Budaya, Tari Kabasaran, Eksistensi, Minahasa PENDAHULUAN Orang Minahasa atau disebut “Tou” Minahasa dalam bahasa daerahnya memiliki karya- karya di bidang seni yang dapat dikagumi sebagai aset daerah dan nasional. Karya seni tradisional Minahasa 'tou' meliputi tari 'kabasaran', tari 'maengket', tari 'pisok'. Dalam karya-karya ini sangat nyata untuk mengekspresikan kehidupan 'tou' Minahasa. Orang Minahasa percaya akan kebesaran Tuhan sebagai pencipta dan pelindung. Mereka percaya bahwa Tuhan menunjukkan kuasa- Nya melalui alam sekitar. Sembilan kali bunyi siulan manguni dipercaya sebagai pertanda baik untuk melakukan suatu aktivitas, antara lain bepergian jauh, menempati rumah yang baru dibangun, pertanda baik untuk bercocok tanam. Tanaman Tawa'ang digunakan sebagai patokan atau batas lahan untuk bercocok tanam. Tumbuhan ini juga memiliki arti “sumpah” jika ada yang melanggar maka akan dihukum oleh Opo Empu. Kepercayaan terhadap kekuatan Opo Empung dapat dilihat pada tarian perang Kabasaran antara lain ekspresi mata yang melotot tajam dari penari yang berarti mengusir roh halus atau roh jahat. Ekspresi mata melotot merupakan simbol dari Opo Empu yang sedang marah pada roh jahat. Tari Kabasaran merupakan cerminan dari kehidupan perang di masa lalu, pada setiap individu Tou Minahasa. Karya-karya besar generasi masa lalu masyarakat Minahasa yang digambarkan di atas