23 Simposium Nasional MIPA Universitas Negeri Makassar, 25 Februari 2017 MIPA Open & Exposition 2017 Perkembangan Fenomena Urban Heat Island Rosmini Maru Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar e-mail: rosminimaru@unm.ac.id Abstrak – Urban heat island (UHI) merupakan salah satu fenomena perubahan iklim yang telah banyak menjadi perhatian oleh para pengkaji iklim di seluruh dunia termasuk Indonesia. Fenomena ini meliputi wilayah yang sempit, sehingga dikatakan sebagai sebagai salah satu fenomena perubahan iklim mikro khususnya di perkotaan. Ciri mendasar yang dimilki oleh fenomena UHI adalah terjadinya peningkatan suhu di pusat kota, sehingga menyebabkan perbedaan suhu antara pusat, pinggir, dan luar kota. Kajian ini mengungkapkan perkembangan UHI dalam masa 2010 hingga 2015. Metode yang digunakan adalah analisis citra landsat. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan fenomena UHI dari tahun 2010 hingga 2015 sangat signifikan. Oleh karena itu diperlukan upaya secara terpadu bagi pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk menangani dan menggulangi fenomena tersebut. Kata kunci: iklim mikro, urban heat island (UHI), perubahan iklim, peningkatan suhu I. PENDAHULUAN Iklim merupakan suatu topik yang sangat menarik perhatian pada sekarang ini (Ahmad, 2010). Ilmu yang mempelajari tentang iklim adalah kliamtologi. Menurut Tjasyono (2004) bahwa klimatologi terbagi atas tiga yaitu (1) klimatologi fisik mempelajari sebab terjadinya perubahan suhu serta pergerakan udara berdasarkan waktu dan ruang; (2) klimatologi kawasan yaitu memberi gambaran iklim dunia yang meliputi sifat dan jenis iklim; dan (3) klimatologi terapan mencari hubungan klimatologi dengan ilmu lain seperti agroklimatologi, klimatologi untuk pertanian, penerbangan, bangunan, dan transportasi. Selanjutnya, Ahmad dan Noorazuan (2010) membagi iklim berdasarkan keluasan wilayahnya yaitu: (1) iklim makro, meliputi keadaan atmosfer dengan kawasan yang relatif luas; dan (2) iklim mikro, meliputi keadaan atmosfera dekat dengan permukaan bumi yang selalu berubah-ubah mengikut ruang dan waktu. Pada beberapa dekade terakhir ini telah terjadi perubahan iklim. Menurut Anon (2011) bahwa perubahan iklim adalah perubahan pada unsur iklim (suhu, kelembaban, hujan, arah dan kecepatan angin). Perubahan ini dapat terjadi secara alamiah dan juga dapat dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia. Berdasarkan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2007 menemukan bahwa rata-rata peningkatan suhu permukaan bumi mencapai 2-3°C setiap tahun. Menurut Vaughan et al (1992) bahwa perhatian manusia terhadap perubahan iklim bermuka sejak tahun 1977. Hal ini dibuktikan oleh adanya catatan Tickell yang telah membarikan bantuan kepada masyarakat untuk menangani dampak akibat perubahan pada masa itu. Perhatian kepada perubahan iklim di Indonesia dimulai pada tahun 1990-an. Tema yang banyak dikaji adalah rkaitan antara pemanasan global dengan perubahan iklim terutamanya peningkatan suhu.. Kajian iklim telah dilakukan pada beberapa wilayah yaitu Jakarta oleh Maru (2014a; 2014b; 2015a; 2015b), Makassar oleh Maru, at al. (2015) dan Balikpapanoleh Hidayati (1990); Jakarta oleh Avia (2010). Avia (2010) menemukan bahwa suhu rata-rata sebesar 0.124°C per tahun. Sementara itu, Hidayati (1990) mendapati peningkatan suhu dalam masa kajiannya adalah 0.03°C. Sementara kajian oleh Maru lebih menekankan kepada intensitas fenomena UHI pada wilayah tersebut. UHI yang biasa juga disebut sebagai pulau panas perkotaan merupakan salah satu fenomena perubahan iklim skala mikro. Fenomena ini peertama kali ditemukan oleh Luke Howard pada tahun 1818 (Sham 1980; Tursilowati 2012). Fenomena ini pun telah menjadi perhatian para pengkaji iklim di berbagai belahan bumi seperti Kuala Lumpur, Selangor, Tokyo, Taiwan, Perancis, Amerika, China, India, Jepun, Tel Aviv, Indonesia dan lain-lain. UHI termasuk dalam kajian iklim mikro khususnya iklim mikro kota. Fenomena UHI merupakan gejala peningkatan suhu pada lapisan litupan kota (UCL) atau gumpalan panas yang berlebihan di pusat kota (CBD). Panas yang diterima kota pada waktu siang akan mengakibatkan keseimbangan panas pada waktu malam (Voogt 2002; Soedomo 2001). Menurut Efendi (2007) bahwa apabila digambarkan dari atas, maka fenomena UHI akan berbentuk seperti pulau, dengan suhu tinggi terdapat pada bagian tengah kota (Gambar 1). Apabila hal tersebut terjadi secara terus menerus maka tentu akan menjadi penyumbang terbesar dalam meningkatkan suhu permukaan ini. Oleh karena itu, sebagai bahan referensi, maka akan diuraikan tentang berbagai perkembangan fenomena UHI diberbagai kawasan di Indonesia