Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 6, No. 2, Hlm. 319-329, Desember 2014 @Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB 319 DINAMIKA SOSIAL-EKOLOGI MASYARAKAT TERHADAP BUDAYA MADAK DI DAERAH PESISIR, SUMBAWA BARAT COMMUNITY SOCIAL-ECOLOGY DYNAMICS ON MADAK CULTURE OF COASTAL REGION, WEST SUMBAWA A. Lidya Tania 1* , Fredinan Yulianda 1 , dan Luky Adrianto 1 Departemen Sumberdaya Perikanan - Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor; * Email: lidyatania07@yahoo.co.id ABSTRACT Madak activity is a local word for the people of Sumbawa to collect marine biota in tidal area during the low tide. The purpose of this study was to determine social change in communities of West Sumbawa for doing Madak culture. The study was conducted for 2 months in West Sumbawa. Data were collected through observation, questionnaire, and interviewing the Madak people. It seemed that Madak culture changed totally, especially in daily actvities. In the past, they used tools that were environmentally friendly. However, during this study, they tended to damage coastal environment by flipping the reef. Keywords: Social, ecology, Madak culture, west Sumbawa ABSTRAK Aktivitas madak adalah istilah lokal warga Sumbawa untuk menyatakan kegiatan pengambilan biota di daerah pasang surut pada saat air surut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sosial pada masyarakat Madak di Sumbawa Barat. Penelitian dilakukan selama 2 bulan di daerah Sumbawa Barat. Data dikumpulkan melalui observasi, penyebaran kuisioner, dan wawancara pada penduduk yang melakukan Madak. Budaya Madak mengalami perubahan terutama dalam pelaksanaan sehari-hari. Dahulu aktifitas Madak menggunakan alat yang ramah lingkungan. Namun, sekarang dilakukan hingga merusak lingkungan karena membolak- balikkan karang. Kata kunci: Sosial, ekologi, budaya Madak, Sumbawa Barat I. PENDAHULUAN Masyarakat tradisional pada um- umnya memiliki pengetahuan yang sudah ada secara turun temurun mengenai aturan tata guna lahan, berdasarkan keyakinan dan budaya yang dimiliki yang umumnya sama dalam beberapa prinsip dasar pelaksanaannya. Pengetahuan tradisional (lokal) menjadi penting dalam manajemen sumberdaya, karena menjelaskan bahwa nilai tradisi mempengaruhi keseimbangan eksternal dan memiliki konsekuensi identitas sosial yang kuat (Hanna, 1996 dalam Schafer, 2007). Manusia sebagai makhluk utama yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan- nya baik secara langsung maupun tidak langsung, walaupun ada pengaruh yang berasal dari lingkungan itu sendiri. Manusia menjadi kunci perubahan yang terjadi dalam lingkungannya karena manusia dan tingkah-lakunya mampu mempengaruhi kelangsungan hidup seluruh makhluk yang ada, akan tetapi, melalui lingkungannya ini pula tingkah- laku manusia ditentukan sehingga sebe- narnya ada hubungan timbal-balik yang seimbang antara manusia dengan ling- kungannya (Ridwan, 2007). Siklus pasang surut air laut yang biasa terjadi 2 kali dalam sehari diman- faatkan oleh masyarakat pesisir untuk