Abdimas Unwahas Vol. 6 No. 1, April 2021 1 ISSN 2541-1608 e-ISSN 2579-7123 PEMBIBITAN PADI DAN BUDIDAYA SAWI HIJAU SISTEM TERAPUNG SEBAGAI ALTERNATIF BUDIDAYA TANAMAN SELAMA PERIODE BANJIR DI LAHAN RAWA LEBAK, PEMULUTAN, SUMATERA SELATAN Erna Siaga 1* , Benyamin Lakitan 2 1 Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Bina Insan, Lubuklinggau 31626 2 Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Inderalaya 30662 * Email: ernasiaga@univbinainsan.ac.id Abstrak Budidaya tanaman sistem terapung dapat menjadi salah satu altenatif solusi yang dapat dikembangkan di lahan tergenang. Pembibitan padi dan budidaya sayuran terapung dapat dilakukan di lahan rawa lebak selama periode banjir. Secara kearifan lokal, pembibitan padi terapung sudah dilakukan oleh para petani di Pemulutan, Sumatera Selatan menggunakan rumput rawa Scleria poaeformis, namun cara pembibitan tersebut mulai ditinggalkan seiring dengan menurunnya ketersediaan rumput rawa tersebut. Penggunaan rakit alternatif berbahan utama botol plastik bekas menjadi alternatif yang dapat diterapkan petani untuk mempertahankan pembibitan padi terapung. Pembibitan terapung menggunakan rakit botol plastik bekas memiliki keunggulan diantaranya tidak perlu penyiraman secara manual, benih yang digunakan sedikit, rakit dapat digunakan berulang, sedikit terserang hama ulat dan biaya pembuatan rakit murah. Selain pembibitan padi, kegiatan budidaya sayuran daun seperti sawi hijau juga dapat dilakukan. Sawi hijau hanya membutuhkan waktu kurang lebih 25 hari sejak bibit pindah tanam sehingga petani dapat panen berkali selama periode banjir. Dari hasil diseminasi yang dilakukan, diketahui bahwa terdapat ketertarikan yang tinggi petani untuk melakukan budidaya tanaman terapung dengan alasan diantaranya yaitu cara budidayanya praktis, pertumbuhan dan hasil baik, dan menjadi alternatif bagi petani untuk tetap dapat melakukan budidaya tanaman walaupun dalam kondisi lahan banjir yang berpotensi menambah pendapatan petani. Kata Kunci: budidaya terapung, pembibitan padi, sawi hijau, rawa lebak PENDAHULUAN Budidaya tanaman terapung merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkan di lahan rawa lebak pada saat periode banjir. Lahan rawa lebak seringkali didefinisikan sebagai lahan yang tergenang secara periodik yang airnya berasal dari curah hujan dan/atau luapan banjir sungai (Subagyo, 2006). Pembibitan padi terapung merupakan salah satu kearifan lokal petani di lahan rawa lebak dalam sistem budidaya padi yang dilakukan di akhir periode banjir sebelum budidaya padi dilakukan (Irmawati dkk., 2015), sedangkan budidaya sayuran yang merupakan komoditas tambahan hanya dilakukan di galangan sawah dengan area pertanaman yang tidak terlalu luas, bahkan berpotensi tergenang air jika curah hujan tinggi. Permasalahan utama pada pembibitan padi terapung menurunnya ketersediaan bahan utama rakit yaitu tumbuhan rumput rawa Scleria poaeformis (petani lokal menyebutnya rumput berondong) yang tumbuh liar pada kawasan ekosistem lebak sehingga menyebabkan persemaian tersebut sudah mulai banyak ditinggalkan (Lakitan, dkk, 2019). Rakit tersebut bersifat sekali pakai karena terbuat dari bahan rumput rawa yang akan membusuk (rusak) dalam waktu kurang dari 1 bulan. Budidaya tanaman sistem terapung saat lahan banjir pada dasarnya memiliki potensi tidak hanya untuk pembibitan padi namun juga dapat dikembangkan untuk budidaya tanaman lainnya seperti tanaman sayuran daun seperti kangkung (Bernas, dkk, 2012), bayam (Syafrullah, 2014), pakcoi (Utomo dkk., 2014), selada (Susila dan Koerniawati, 2004; Siregar dkk., 2015; Marlina dkk.,2015), dan sawi (Karya dkk., 2015). Akan tetapi, media terapung yang digunakan tidak tergambar jelas pada hasil-hasil penelitian tersebut sehingga untuk menjawab permasalahan tersebut, rakit terapung berbahan botol plastik bekas ukuran 600 ml dan 1500 ml diciptakan sebagai