84
Sutasoma 9 (1) (2021)
Sutasoma:
Jurnal Sastra Jawa
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sutasoma
Sêrat Bayanolah: Naskah Jawa sebagai Sarana Pelurusan Penyimpangan Akidah
Islam Karya Raden Panji Natarata
Mila Indah Rahmawati
1
, Wakit Abdullah Rais
2
, dan Prasetyo Adi Wisnu Wibowo
3
1
Linguistik Deskriptif, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, Indonesia
2.3
Program Studi Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret
Corresponding Author: milaindahr_38@student.uns.ac.id.
DOI: 10.15294/sutasoma.v9i1.40855
Accepted: September 14
th
2020 Revison: June 29
th
2021 Published: June 28
th
2021
Abstrak
Karya sastra Jawa dianggap sebagai karya sastra yang bermutu tinggi. Hal tersebut erat kaitannya dengan nilai-
nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Ajaran atau nilai-nilai luhur dalam karya sastra Jawa ini bisa disebut
dengan istilah karya sastra piwulang, yaitu karya yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan atau ajaran yang
berasal dari Tuhan. Salah satu karya sastra Jawa yang bernuansa piwulang ini adalah Sêrat Bayanolah. Karya
ini mengisahkan tentang perjalanan seorang panatagama Keraton Yogyakarta dalam menenemukan hakikat
kehidupan yang sejati. Untuk memahami konsep ini tidak mudah karena realitasnya banyak aliran pemikiran
dan keagamaan menyimpang yang justru dapat menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Penelitian ini
dilakukan secara deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah Sêrat Bayanolah Karya Raden Panji
Natarata yang dikoleksi oleh Yayasan Sastra Lestari Surakarta. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa
hakikat manusia sebagai makhluk tidak sama dengan hakikat Allah (Tuhan) sebagai Pencipta. Di samping itu,
dalam memaknai konsep kehidupan dan kematian harus disesuaikan dengan ajaran-ajaran Islam karena pada
kenyataannya masih ada para ulama maupun orang berilmu yang masih salah dalam memahami konsep
kehidupan dan kematian tersebut.
Kata Kunci: Sêrat Bayanolah, naskah Jawa, penyimpangan, akidah
Abstract
Javanese literary works are considered as high-quality literary works. This is closely related to the noble values contained in
Javanese literary works. The teachings or noble values in this Javanese literary work are usually referred to as piwulang
literary works, namely works that originate from religious values or teachings that come from God. One of the Javanese
literary works with piwulang nuances is Sêrat Bayanolah. This work tells about the journey of a panatagama at the
Yogyakarta Palace in discovering the true essence of life. To understand this concept is not easy because in reality there are
many deviant schools of thought and religion which can derail people from the right path. This research was conducted in a
descriptive qualitative manner. The data source used was Sêrat Bayanolah by Raden Panji Natarata, which was collected by
the Museum of Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, Surakarta. Based on the research results, it was found that the essence
of man as a creature is not the same as the essence of God (God) as the Creator. Besides, interpreting the concept of life and
death must be adjusted to Islamic teachings because in reality there are still scholars and knowledgeable people who still
misunderstand the concept of life and death.
Keywords: Sêrat Bayanolah, Javanese script, deviations, faith
© 2021 Universitas Negeri Semarang
p-ISSN 2252-6307
e-ISSN 2686-5408