Serambi Engineering, Volume IV, No.2, Juli 2019 ISSN : 2528-3561 514 hal 514-521 Analisis Risiko Non Karsinogenik Pajanan PM 10 di Kawasan Komersial, Kota Jambi Rizki Andre Handika 1 *, Solikhati Indah Purwaningrum 2 , Resti Ayu Lestari 3 1,2 Environmental Engineering Dept., Faculty of Engineering, Jambi University 3 Environmental Engineering Dept., Faculty of Engineering, Andalas University *Koresponden email: rizki_ah@unja.ac.id Diterima: 15 Mei 2019 Disetujui: 12 Juli 2019 Abstract PM 10 Pollutant is an air particulate that cannot be detected by a nose hair. It contains carcinogenic and non-car- cinogenic chemical components. This study, therefore, aims to quantify the concentration of PM 10 and identify the risks of the non-carcinogenic type’s exposure to the public’s health in the commercial area of Pasar Jambi sub-district. Measurement of PM 10 concentration was performed on Sunday (weekend) and Monday (weekday) using high volume air sampler (HVAS). Furthermore, questionnaire and interviewing were implemented on 95 people amounting to 12% of the total population. The result shows that PM 10 concentrations were observed to have exceeded ambient air quality standards of 196.9 µg/m3 on weekend and 2.094 µg/m3 weekday. Further- more, the average concentration of Al and Mn in PM 10 were 1.69384 µg/m3 and 0.04191 µg/m3 respectively. Although the public health activity was already at the risk of PM10 non-carcinogenic exposure in the commer- cial district (i.e RQ > 1), there has not been any environmental health risks for the non-carcinogenic metals (Al and Mn) to the society. Therefore, risk management is carried out to protect the population from PM 10 risks. Risk management comprises calculating the safe concentration, duration, frequency, and time of exposure on these weekend and weekday. Keywords: PM 10 pollutant, Non-Carcinogenic, Exposure, Risk Analysis, Commercial Area. Abstrak Polutan PM 10 merupakan partikel udara yang sudah tidak terdeteksi lagi oleh bulu hidung dan mengandung komponen kimia yang bersifat karsinogenik maupun non karsinogenik. Penelitian ini dimaksudkan untuk menghitung konsentrasi PM10 dan mengidentifkasi risiko pajanan PM 10 non karsinogenik pada penduduk yang terpajan di kawasan komersial Kecamatan Pasar Jambi. Pengukuran konsentrasi PM 10 dilaksanakan pada Ming- gu (hari libur) dan Senin (hari kerja) menggunakan HVAS. Sedangkan kuesioner dan wawancara dilakukan kepada sampel masyarakat sebanyak 95 orang yang merupakan 12% dari jumlah populasi. Hasilnya didapatkan bahwa kondisi PM 10 telah melewati standar yang dipersyaratkan sebesar 196,9 µg/m3 (Minggu) dan 209,4 µg/ m3 (Senin), dimana konsentrasi rata-rata logam Al dan Mn pada hari libur dan hari kerja secara berturut-turut adalah 1,69384 µg/m3 dan 0,04191 µg/m3. Hal ini menandakan bahwa pajanan PM 10 non karsinogenik sudah berisiko secara umum, kecuali dari logam Al dan Mn yang belum memberikan risiko. Oleh karena itu diper- lukan upaya manajemen risiko meliputi penghitungan konsentrasi, frekuensi, durasi dan waktu pajanan aman baik pada hari libur maupun di hari kerja tersebut. Kata kunci: pencemar PM 10 , non karsinogenik, pajanan, analisis risiko, wilayah komersial 1. Pendahuluan Polutan PM 10 merupakan partikel udara dalam wujud padat berdiameter < 10 mikrometer (Nurjazuli dan Fikri, 2010). Dalam ukuran tersebut, polutan ini sudah tidak terdeteksi oleh bulu hidung sehingga dapat menembus ke jaringan sistem respirasi pada manusia yang berefek terhadap gangguan-gangguan kesehatan di bagian itu. Hal tersebut diakibatkan karena sifatnya yang karsinogenik maupun non karsinogenik (Wulandari dkk, 2016), sehingga mengandung logam- logam berbahaya seperti Na, Ca, Mg, Fe, Al, Zn, Ni, K, Si, Pb, Cu, Mn, dan Cd (USEPA, 2013; Ruslinda & Hafdawati, 2012). Polutan ini perlu mendapat perhatian karena risiko kesehatannya dan hubungannya dengan perkembangan pembangunan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh kota-kota di Indonesia. Risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh PM 10 diantaranya menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma, bronchitis, risiko penyakit paru obstruktif menahun,