Retensio Plasenta Retensio plasenta didefinisikan apabila plasenta tidak berhasil dilahirkan dalam waktu 30 menit setelah kelahiran bayi. Retensio plasenta merupakan suatu komplikasi yang terjadi dari 2-3% persalinan pervaginam dan diketahui sebagai salah satu penyebab perdarahan postpartum. Dalam beberapa kasus, retensio plasenta dapat disebabkan akibat plasenta akreta. Plasenta akreta merupakan suatu bentuk invaginasi plasenta yang langsung pada miometrium tanpa adanya decidua basalis secara utuh atau parsial. 3,4 1. Faktor Risiko Faktor risiko terjadinya retensio plasenta yaitu persalinan yang diinduksi, jumlah paritas yang tinggi (lima paritas atau lebih), riwayat retensio plasenta sebelumnya, riwayat dilatasi dan kuretase sebelumnya, kelahiran prematur, berat plasenta yang kecil, maupun usia maternal (≥ 30 tahun). Pada tahun 2014, sebuah penelitian menghubungkan kejadian retensio plasenta dengan kejadian intrauterine fetal death (IUFD). Pada wanita nullipara, faktor lain yang berhubungan dengan kejadian retensio plasenta yaitu akibat waktu persalinan, baik kala 1 maupun kala 2 yang memanjang. Retensio plasenta lebih sering terjadi di negara maju, karena intervensi yang lebih umum seperti aborsi terapeutik atau induksi persalinan. 4,5 Faktor risiko untuk plasenta akreta antara lain adalah plasenta previa dan riwayat kelahiran dengan operasi sesar sebelumnya. Faktor risiko lain termasuk tindakan operasi pada uterus sebelumnya (dilatasi dan kuretase, pengangkatan plasenta secara manual, synaekolisis atau miomektomi), usia ibu dan jumlah paritas ibu. Risiko plasenta akreta pada kasus plasenta previa dalam uterus yang tidak mengalami scarring adalah sekitar 3%. Risiko meningkat tajam dengan meningkatnya jumlah kelahiran sesar. Pada kasus plasenta previa dengan riwayat satu kali seksio sesarea sebelumnya, risiko terjadinya plasenta akreta meningkat menjadi sekitar 11%, sedangkan dengan dua kali riwayat operasi sesar adalah sebesar 40% dan 67% dengan empat atau lebih seksio sesarea. 3