JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No.1, (2013) 2337-3520 (2301-928X Print) E-1 Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) 2,4- Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D) dan 6-Benzylaminopurine (BAP) yang paling optimal menginduksi kalus dari eksplan daun Calophyllum inophyllum Linn. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi 2,4-D yang terdiri dari 0 ppm; 0,5 ppm; 1 ppm; 1,5 ppm dan 2 ppm dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP yaitu 0 ppm; 1 ppm; 2 ppm; dan 3 ppm. Parameter pengamatan yang diamati, antara lain berat segar kalus (mg), hari saat muncul kalus (HSI), dan warna serta tekstur kalus. Berat segar kalus dianalisis menggunakan ANOVA two-way. Sedangkan hari saat muncul kalus dan warna tekstur kalus dianalisis secara deskriptif. Pengamatan dilakukan pada 45 hari setelah inokulasi (HSI). Hasil uji ANOVA two-way menunjukkan bahwa konsentrasi 2,4-D, BAP serta interaksi antara kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap berat segar kalus daun C. inophyllum Linn. (P 0,05). Perlakuan kombinasi konsentrasi 2,4-D 0,5 ppm + BAP 2 ppm merupakan kombinasi konsentrasi ZPT yang paling optimal untuk kandungan berat segar kalus yaitu 197,8 mg dan untuk hari muncul kalus lebih cepat yaitu pada 13 HIS. Sedangkan pengamatan terhadap warna dan tektur kalus menunjukkan paling banyak kalus berwarna coklat tua dan bertekstur kompak pada perlakuan yang membentuk kalus. Kata KunciCalophyllum inophyllum Linn., 2,4- Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D), 6-Benzylaminopurine (BAP), Induksi Kalus. I. PENDAHULUAN ndonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang terdiri atas flora dan fauna. Salah satu flora jenis pohon yang hidup dan banyak ditemui di Indonesia terutama di kawasan pesisir adalah mangrove. Indonesia mempunyai hutan mangrove terluas di dunia dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia dan struktur paling bervariasi di dunia [1]. Berdasarkan data tahun 1984, Indonesia memiliki mangrove dalam kawasan hutan seluas 4,25 juta ha, kemudian berdasarkan hasil interpretasi citra landsat (1992) luasnya tersisa 3,812 juta ha [2]. Sedangkan data FAO (2007) luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3.062.300 ha atau 19% dari luas hutan mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) [2]. Salah satu jenis tumbuhan mangrove yaitu nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn.). Tanaman nyamplung mempunyai sebaran yang cukup luas di Indonesia [3]. Nyamplung (C. inophyllum Linn.) adalah tanaman yang tumbuh di daerah bertanah pasir dan daerah pesisir pantai berudara panas [4]. Nyamplung juga dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-800 mdpl seperti di hutan, pegunungan, dan rawa-rawa. Nyamplung dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Namun untuk perbanyakan tanaman umumnya diperoleh dari biji, karena buah nyamplung mudah diperoleh dan berbuah sepanjang tahun [5]. Nyamplung (C. inophyllum Linn.) merupakan tanaman serba guna, mulai dari manfaat pohonnya sebagai tanaman konservasi dan penghijauan sampai pada produk yang dihasilkan yaitu kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berupa biji yang dimanfaatkan sebagai penghasil minyak nabati [3]. Tanaman nyamplung mengandung banyak komponen kimia yang mengandung bahan bioaktif yang berkhasiat obat yaitu mengahsilkan metabolit sekunder dari golongan Non-nucleoside reverse tramscriptase inhibitor (NNRTI). NNRTI yaitu merupakan kelompok senyawa yang menghambat aktivitas enzim reverse transcriptase dari HIV-1 [6]. Spesies yang paling melimpah pada genus ini adalah C. inophyllum Linn. yang tersebar di wilayah tropis Afrika, Amerika, dan Asia. Pohon ini juga meluas di Polinesia Perancis yang digunakan untuk pengobatan. Beberapa pyranocoumarin terisolasi dari genus Calophyllum yang menunjukkan aktivitas anti HIV-1 yang termasuk dalam NNRTI. Senyawa pyranocoumarin ini termasuk ke dalam golongan turunan senyawa fenol. Senyawa yang menunjukkan aktivitas anti HIV-1 pada C. inophyllum Linn. yaitu inophyllum B dan P [7]. Penggunaan bahan obat yang berasal dari tanaman dapat dilakukan dengan cara mengekstrak tanaman langsung dari alam, sintesis dari senyawa lain yang berstruktur hampir sama dengan senyawa obat, dan dengan teknik kultur jaringan secara in vitro [8]. Melihat kondisi mangrove di Indonesia dari tahun ke tahun yang mengalami penurunan, dikhawatirkan bahwa sumberdaya hayati ini akan musnah disebabkan karena Induksi Kalus Daun Nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn.) pada Beberapa Kombinasi Konsentrasi 6-Benzylaminopurine (BAP) dan 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D) Putri Nur Indah dan Dini Ermavitalini Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim , Surabaya 60111 E-mail: dinierma@bio.its.ac.id I